Ada dua blunder yang merugikan PDI Perjuangan dalam pertemuan Permata Hijau yang digelar Senin (14/4/2014) malam lalu. Tetapi yang paling fatal adalah terlibatnya Vatikan dalam pertemuan itu.
Kesalahan pertama adalah terlibatnya Amerika Serikat, melalui duta besarnya Robert O. Blake dalam pertemuan itu. Dalam pandangan saya, kalau pun PDI Perjuangan memandang faktor AS itu begitu signifikan, sikap ‘sumerah’ tersebut tidaklah harus dibuat setelanjang itu ke public. Menjadikannya hanya sebagai ‘rahasia dapur’ tentu saja lebih elok untuk nama besar PDIP yang biasa menampilkan retorika-retorika kemandirian dan anti-asing khas Bung Karno itu di mata public.
Bagi saya, sebagaimana ‘faktor militer’, ‘faktor AS’ hanyalah mitos yang entah mengapa tanpa reserve kita pertahankan. Seolah, tanpa dukungan AS, tak mungkin seseorang bisa menjadi presiden Indonesia.
Mungkin ada benarnya, mengingat fakta sejarah seputar penurunan Bung Karno, naiknya Soeharto dan seterusnya yang selalu melibatkan pembicaraan tentang ‘faktor AS’ itu. Bahkan tak kurang yang terbuka, seperti terungkap dalam biografi mantan Menteri Luar Negeri AS, Condoleeza Rice. Dalam ‘No Higher Honor: A Memoir of My Years in Washington’ itu Rice tanpa sungkan menilai para presiden Indonesia yang sempat dikenalnya. Misalnya, sebagai tanda persetujuannya atas kemenangan SBY dalam Pemilu 2014--Rice tak satu kata pun menyebut mitra SBY, Jusuf Kalla, Rice mengatakan SBY telah membawa era baru bagi Indonesia.
Tetapi sukar untuk menolak bahwa dalam politik Indonesia, ‘faktor AS’ pun tak lebih dari sekadar mitos. Sama halnya dengan ‘militer’ yang dianggap lebih kapabel, yang dalam banyak hal hanya merujuk Soeharto. Yang lain, maaf kata, justru membuktikan sebaliknya.
Sementara sebaliknya, yang faktual adalah bahwa kepemimpinan mana pun yang mengedepankan mitos, bukanlah kepemimpinan yang cocok untuk dinamis dan tak terprediksinya masa depan. Ia telah menjadi masa lalu yang seharusnya ditinggalkan. Sudah tidak masanya lagi melibatkan ‘wahyu keprabon’ atau mitos minum air kelapa pemberi nasib baik ala Sutawijaya dalam Babad
Tanah Jawi untuk urusan kepemimpinan saat ini.
Tetapi tentu saja, yang kedua, yakni melibatkan Vatikan ke dalam pertemuan itu jauh lebih fatal. Orang masih bisa memaklumi terlibatnya AS dengan ke dalam pertemuan, mengingat negara adidaya itu faktor penting dalam percaturan dunia saat ini. Apalagi kalau kita membuka data statistik tentang ketergantungan Indonesia, yang tak hanya melulu soal ekonomi, melainkan juga kebudayaan, sosial, hukum dan demokrasi.
Tetapi Vatikan? Nyaris bisa dikatakan, tak ada kepentingan strategis apa pun yang bisa dijadikan alasan pembenar hadirnya dubes Vatikan pada pertemuan itu. Sebaliknya, hadirnya Dubes Vatikan justru memberi ‘noda’ pada pertemuan.
Yang paling jelas, ia menjadi alasan pembenar (justifikasi) bagi banyak kalangan untuk mengorek rumors lama di sekitar pencalonan Jokowi. Isu yang muncul sejak ia mengincar kursi gubernur DKI Jakarta: isu sektarian keagamaan. Isu yang tak juga lekang di masa Pileg kemarin.
Bukankah kita pun tahu, dengan gampang kita bisa menemukan pamflet, selebaran, baik itu dalam bentuk cetakan maupun yang berseliweran di dunia maya lewat internet dan telepon seluler kita? Bukanlah kita tahu betapa repot Jokowi dan PDI Perjuangan menepis isu primordial yang mengembalikan kita ke tahun-tahun awal kemerdekaan, setidaknya era 1950-60-an itu?
Lalu untuk apa isu tidak cerdas yang membawa bangsa kepada sentimen sempit primordial itu justru dihadirkan kembali secara telanjang dengan terlibatnya Vatikan dalam pertemuan?
Unsur PDI Perjuangankah yang alpa memikirkan akibatnya, dan sengaja mengundang Vatikan ke dalam pertemuan? Jujur saja, saya ragu. Jokowi dan PDI Perjuangan tahu betapa kerasnya isu primordial itu menghantam mereka. Mereka juga tahu betapa sulitnya berkelit.
Tetapi begitu saja menunjuk inisiator pertemuan, Jacob Soetoyo, sebagai pengundang pihak Vatikan pun kurang memiliki alasan kuat. Bagaimana mungkin, Jacob, seorang yang sempat menjadi anggota Dewan Pengawas CSIS dan anggota lembaga terkemuka dunia, Trilateral Commision, semudah itu silap memperhitungkan dampak negatif keterlibatan Vatikan ?
Atau justru semua telah tertata dalam rencana?
Indikasi Jokowi mendapat Dukungan Israel
Sepak terjang Jokowi ternyata juga dipantau Israel. Laman Israel tak henti menyorot segala macam berita tentang Gubernu...r Jakarta itu. Laman //Israelforeignaffairs.com//, misalnya tak ketinggalan memotret perjalan Jokowi di peta perpolitikan nasional.
Laman Israel itu mengutip sepak terjang Jokowi dari sejumlah media asing dan media Indonesia. Ada sekitar 25 berita yang terkait soal Jokowi di laman Israel itu. Uniknya, berita soal Jokowi baru intensif jadi sorotan laman itu sejak bulan Maret, atau hampir bersamaan dengan waktu pencapresan Jokowi oleh PDI Perjuangan.
Jokowi pun diportet secara positif dalam berita yang dikutip oleh laman Israel itu. Beberapa berita Jokowi yang dikutip laman Israel itu di antaranya berjudul, "Pencapresan Gubernur Jokowi Riuhkan Politik Indonesia" dan "Jokowi: Penggemar Metal yang Diunggulkan Jadi Presiden Indonesia."
Tak hanya Jokowi yang mendapat sorotan dari media itu. Sejumlah berita terkait tokoh politik nasional pun tak luput dikutip oleh laman //Israelforeignaffairs.com//. Namun porsi sorotan pada Jokowi menyita perhatian terbanyak.
Bukan hanya sebatas media, perwakilan Israel pun intensif menjalin kontak dengan tokoh politik Indonesia. Salah satu tokoh yang pernah menjalin kontak dengan Israel adalah petinggi Partai Nasdem, Ferry Mursyidan Baldan. Kini Ferry bersama Partai Nasdem-nya menjalin koalisi untuk meloloskan Jokowi sebagai presiden Indonesia.
Sumber : Republika.co.id
Shallom,
Tanpa mau melebihkan perilaku JOKOWI yang memang telah sesuai terpilih dengan kalimat "Vox Populi Vox Dei" atau "Suara Rakyat Suara Tuhan",walaupun dihadang partai politik yang kuat, dihujat karena wakilnya adalah seorang Kristen (wakil yang di Solo yang jadi walikota sekarang juga seorang katolik) tetap saja ia menang, pada berita kali ini adalah ketika Jokowi mencium tangan mantan atasannya..
Mungkin tidak banyak orang yang dapat melakukan hal ini sekalipun ia seorang Kristen yang ajarannya penuh Kasih,apalagi bila ia terpilih menjadi pejabat penting semacam walikota, gubernur ataupun anggota Dewan yang tidak terhormat,coba kita simak berita dibawah ini, ternyata prilakunya sesuai dengan firman berikut:
Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.(Matius 5;39)
Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. (1Korintus 13:4)
Marilah kita berdoa dan menunggu pekerjaan Tuhan yang penuh kasih akan terjadi pada warga Jakarta melalui Jokowi, diantaranya pemberian Kartu Jakarta Sehat yang membebaskan warga miskin dengan biaya medical yang tinggi, pembelaan kepada warga kurang beruntung dengan tidak menyetujui pembangunan Jalan Layang di DKI untuk kendaraan roda-4, rencana pembangunan rumah murah yang manusiawi bagi warga kurang beruntung, pengaturan managemen keterbukaan anti korupsi, melalui rapat Balaikota yang selalu dapat dimonitor melalui You-tube dll, dll Luar biasa kita tunggu saja
Inilah Kasus Korupsi Jokowi Selama Jadi Walikota Solo (1)
by Ronin Samurai
Di saat mayoritas media massa memuja – muja joko widodo alias Jokowi, mudah dibaca semua itu adalah rekayasa tim sukses Jokowi untuk membentuk opini publik yang keliru agar rakyat percaya dan terpedaya.
Diakui, upaya pencitraan dan pembentukan persepsi positip terhadap Jokowi berhasil karena dilakukan secara sistematis, masih, kontinue, melibatkan jaringan media dan tokoh, menghabiskan biaya triliunan rupiah, disutradarai konsultan ahli strategi politik dan pollster (pengumpul suara) nomor satu di dunia.
Dampak atau hasilnya memang luar biasa, rakyat Indonesia terkecoh opini sesat. Tidak mendapat gambaran seutuhnya tentang fakta – fakta sebenarnya tentang Jokowi. Ribuan bahkan mungkin puluhan ribu tulisan, artikel, berita, tayangan dan sejenisnya ditampilkan secara apik oleh tim sukses Jokowi di bawah komando Stanley Bernhard Greeberg, sang ahli strategi politik dan pollster nomor satu dunia.
Mengupas fakta – fakta tentang diri Jokowi ini sangat menarik. Banyak misteri yang mengundang tanya tanya. Banyak informasi yang ditutup rapat, dirahasiakan, agar tidak menjadi pengetahuan rakyat luas.
Pada kesempatan pertama ini, fakta tentang diri Jokowi kita mulai dari fakta – fakta korupsi Jokowi selama menjadi Walikota Solo 2005-2011 yang diperoleh dari instansi penegak hukum (Kejari Solo dan Kejati Jawa Tengah), Pemkot Solo, dan sumber lain yang terlibat atau mengetahui pasti korupsi Jokowi ini.
Korupsi Jokowi selaku walikota Solo yang paling telak, kasar dan vulgar adalah pada pelepasan aset pemkot Solo berupa bangunan hotel Maliyawan.
Pada pelepasan aset pemkot Solo atas bangunan hotel Maliyawan ada dua tindak pidana Jokowi, yakni : pelanggaran terhadap peraturan perundang – undangan dan dugaan suap dari Lukminto kepada Jokowi.
Secara ringkas dapat disampaikan, Jokowi terbukti merekayasa pelepasan aset bangunan hotel Maliyawan Solo secara ilegal dan langgar hukum. Semula Pemkot Solo yang ngotot mau beli tanah hotel milik pemda Jawa Tengah dan sudah menganggarkan dana pembelian tanah melalui APBD Solo. Tapi, Jokowi diam – diam telah menjual bangunan hotel Maliyawan kepada Lukminto. Diduga ada suap untuk Jokowi dari Lukminto atas penjualasan aset pemkot Solo (bangunan hotel Maliyawan) yang langgar hukum itu.
Terhadap penjualan aset bangunan hotel Maliyawan itu, Jokowi terbukti melanggar Peraturan Pemerintah (PP) 38/2008 Tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah dan Negara.
Jokowi juga telah melanggar batas kewenangannnya sesuai dgn UU Pemda No. 22 tahun 1999, UU No. 32 tahun 2004 tentang otonomi daerah, sbgmn sdh diubah dgn diubah untuk keduakalinya dengan UU Nomor 12 Tahun 2008, dan sejumlah peraturan pemerintah terkait pelepasan aset.
Jokowi terbukti telah melanggar PP No 6/2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah, Perda No 8/2008 Tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah
KKN Jokowi bersama Lukminto telah melanggar Laporan Pertanggung Jawaban Walikota Tahun 2010 yang telah menganggarkan pembelian tanah Hotel Maliyawan sebesar Rp 4 Miliar dari pemda / BUMD Jawa Tengan (CMJT).
Jokowi juga telah melanggar Nota Kesepakatan Pemkot Solo dengan DPRD Kota Solo No 910/3.314 dan No 910/1/617 tentang Kebijakan Umum Perubahan APBD Solo.
Jokowi melanggar hukum dan diduga korupsi dana hibah KONI Solo sebesar Rp. 5 miliar.
Pada thn 2008 KONI Surakarta (Solo) mengajukan permohonan bantuan anggaran pembinaan dan bonus atlet berprestasi ke pemkot Solo. Atas permintaan KONI, pemkot Solo menyampaikan usulan RAPBD 2009 dengan alokasi dana hibah sebesar Rp. 11.3 M untuk KONI Solo.
Nota RAPBD 2009 Pemkot Solo dengan rencana anggaran hibah untuk KONI Solo disetujui DPRD Solo dan ditandatangani Jokowi selaku Walikota.
Sebelumnya pada tahun 2008 PERSIS Solo juga mengajukan permohonan dana bantuan ke Pemkot Solo. Tapi tidak disetujui karena dilarang peraturan dan perundang – undangan.
Terbukti bahwa APBD Solo TIDAK mengalokasikan dana hibah ke PERSIS Solo pada APBD tahun 2009.
Namun dalam pelaksanaanya, DPRD Solo menemukan penyimpangan pencairan dana Rp. 11.3 Milyar itu oleh Jokowi, di mana dana APBD 2009 untuk hibah KONI Solo hanya diterima sebesar Rp. 6.3 miliar, atau kurang Rp. 5 miliar dari anggaran APBD 2009 yang sudah disahkan.
KONI Solo melalui Wakil Ketua KONI Gatot Sugiharto mempertanyakan kemana kekurangan uang Rp. 5 miliar yang tidak diterima KONI. Jawaban walikota Jokowi bahwa sisa uang Rp. 5 miliar dana hibah hak KONI itu sudah dialihkan untuk PERSIS (Persatuan Sepak bola Solo).
Pengalihan uang Rp. 5 Miliar dana Hibah KONI melanggar UU dan hukum karena tanpa ada persetujuan DPRD dan Mendagri. Sesuai peraturan perundang – undangan yang berlaku dana APBD tidak diperbolehkan dihibahkan ke cabang olah raga termasuk sepakbola.
Tindakan Jokowi itu melanggar UU No. 32 thn 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Permendagri No. 59 thn 2007 serta Perda APBD Kota Solo.
Belakangan diketahui uang Rp. 5 miliar hak KONI SOLO telah dialihkan dan disebut Jokowi sudah diterima PERSIS Solo juga tidak dapat dipastikan kebenarannya. Tidak ada laporan penerimaan dana hibah dari APBD 2009 atau hibah dari KONI Solo untuk PERSIS Solo sebesar Rp. 5 miliar dalam laporan keuangan PERSIS Solo tahun 2009.
Korupsi Jokowi pada penyaluran dana Bantuan Pendidikan Masyarakat Kota Solo (BPMKS)
Pada tahun 2010, APBD Solo menganggarkan dana BPMKS sebesar Rp. 23 miliar untuk 110.000 siswa SD, SMP dan SMA Kota Solo.
Penyimpangan dan korupsi Jokowi adalah pada proses penganggarannya yang terjadi penggelembungan jumlah siswa dari 65.000 menjadi 110.000 siswa dengan modus duplikasi nama siswa.
sehingga anggaran APBD 2010 yang seharusnya hanya Rp. 10.6 miliar dimark up menjadi Rp. 23 miliar. Dari dana APBD tahun 2010 sebesar Rp. 23 miliar itu, dilaporkan tersisa Rp. 2.4 miliar atau terpakai /tersalurkan Rp. 20.6 miliar.
Hasil verifikasi tim audit BPK dan Itjen Kemendagri, telah terjadi korupsi pada program BPMKS sebesar Rp. 9.5 – 13 miliar dari penggunaan dana APBD tahun 2010 sebesar Rp. 23 miliar.
Untuk program BPMKS pada APBD 2011 dan 2012 juga terjadi penyimpangan dan korupsi yang sama dengan modus yang sama.
Pihak masyarakat sudah melaporkan perihal korupsi Jokowi di program BPMKS ke KPK, tetapi seperti kita ketahui bersama, puluhan ribu laporan masyarakat di KPK menumpuk menunggu antrian bertahun – tahun untuk mulai diusut.
Korupsi mantan Walikota Solo Joko Widodo yang menjadi catatan hitam adalah korupsi Jokowi pada proyek VIDEOTRON Manahan Solo pada 2008.
Keterlibatan Walikota Solo Jokowi pada pengadaan pembangunan sarana Reklame Videotron di pertigaan Gelanggang Olah Raga (GOR) Manahan Solo, dimulai dari perintah atau disposisi Walikota Jokowi kepada Budi Suharto Kepala Dinas Pendapatan Daerah (Kadispenda) Solo pada Desember 2008.
Perintah atau disposisi Walikota Solo Jokowi kepada Budi Suharta Kadispenda itu pada intinya adalah untuk memberikan pekerjaan pemasangan reklame videotron itu kepada PT. Loka Niaga Adipermata.
Penetapan lokasi dan kelayakan (Feasibility Study) pemasangan reklame videotron itu sebelumnya sudah dilakukan oleh CV. Tika Martindo dengan sumber anggaran APBD sebesar Rp. 90 juta. Penetapan CV. Tika Matindo sebagai pelaksana studi kelayakan dilakukan tanpa lelang. Penunjukan langsung oleh Kadispenda atas perintah Walikota Solo Jokowi.
Setelah studi kelayakan penetapan lokasi pemasangan sarana reklame videotron selesai dilakukan, yakni direkomendasikan di pertigaan GOR Manahah, PT. Loka Niaga Adipermata mengirim surat kepada Walikota Solo, pada tanggal 15 Desember 2008.
Surat PT. Loka Niaga Adipermata kepada Walikota, diteruskan Jokowi kepada Kadipenda Solo Budi Suharta dengan disposisi “Diajukan segera sebagai peserta lelang terdaftar”.
Disposisi Walikota Jokowi itu kemudian dituangkan dalam surat jawaban Kadispenda kepada PT. Loka Niaga Adiperdana pada tanggal 19 Desember 2008.
Pada tanggal 22 Desember 2008 atau 3 hari setelah surat Kadispenda Solo kepada PT. Loka Niaga Adiperdana diterbitkan, Dispenda Solo mengirim surat undangan kepada perusahaan – perusahaan biro iklan rekanan terdaftar Pemkot Solo untuk menghadiri penjelasan lelang pengadaan Baliho, Bando, Billboard, dan lainnya, yang akan dilaksanakan pada 23 Desember 2008 atau hanya satu hari terhitung sejak surat undangan penjelasan lelang disampaikan.
Pada tanggal 23 Desember 2008 dilakukan penjelasan lelang di Kantor Dispenda Solo yang dihadiri beberapa perusahaan biro iklan rekanan pemkot Solo. Namun, semua biro iklan yang hadir dalam penjelasan lelang di kantor Dispenda Solo itu tidak ada yang mengetahui bahwa pemkot Solo juga sedang melelang pengadaan sarana reklame videotron, kecuali PT. Loka Niaga Adiperdana.
Pada 24 Desember 08, sekitar pukul 14.00 WIB digelar rapat di ruang lantai 2 kantor Dispenda, dipimpin langsung Kadispenda Solo Budi Suharto. Hadir pada rapat itu antara lain Budi Ismoyo (PT Jarum), Wardani ( DKP), Aroni (DTT), Singgih ( Kantor Aset) & Yosca H (DLLAJ Solo).
Rapat tanggal 24 Desember 2008 di lantai 2 Dispenda Solo itu ditetapkan para pemenang lelang sesuai dengan arahan Walikota Jokowi kepada Kadispenda. Khusus untuk paket pengadaan sarana reklame videotron senilai Rp. 4 miliar diserahkan kepada PT. Loka Niaga Adiperdana yang merupakan satu – satunya perusahaan biro iklan yang mengetahui informasi lelang dan juga merupakan satu – satunya biro iklan yang mendapat undangan untuk mengikuti lelang paket pengadaan videotron pemkot Solo.
Kejaksaan Negeri (Kejari) Solo sudah mengusut korupsi videotron ini, namun perkembangan penyelidikan dan penyidikannya macet total. Padahal, Kejari Solo sudah menemukan bukti korupsi di antaranya temuan bahwa CV. Tika Martindo pelaksana studi kelayakan adalah perusahaan fiktif yang tidak diketahui alamat dan keberadaaanya.
Di samping itu, Kejari Solo juga sudah menetapkan Budi Suharta sebagai tersangka, namun tiba – tiba status tersangka korupsi Budi Suharta dicabut kembali tanpa dasar dan alasan yang jelas.
Padahal penetapan tersangka terhadap Budi Suharta dan pejabat – pejabat Dispenda Solo serta direktur PT. Loka Niaga Adiperdana akan menguak keterlibatan Jokowi dalam korupsi serta akan menyeret mantan walikota Solo yang kini adalah capres PDIP sebagai tersangka korupsi videotron Manahan Solo.
Kolusi, Korupsi dan Nepotisme (KKN) Jokowi pada proyek pengadaaan videotron Manahan Solo ini sebenarnya sangat mudah dibuktikan, namun sayangnya ada intervensi ‘tangan sakti’ kepada Kejari Solo dan penyidik. KPK diharapkan segera masuk mengambilalih kasus korupsi Jokowi yang sudah terkatung – katung penuntasannya selama 4 tahun.
Pihak Kejari Solo dan Kejati Jawa Tengah memang mengeluhkan adanya intervensi dan tekanan dari pihak tertentu yang meminta kasus – kasus korupsi Jokowi selama menjabat walikota Solo dipetieskan.
Konspirasi sekitar 87% media massa nasional yang membentuk opini palsu, pencitraan, mendongkrak popularitas Joko Widodo ke puncak ketenarannya, sudah diketahui masyarakat luas. Opini, popularitas, bahkan electabilitas Jokowi itu adalah semu…
Setiap jaman baik dalam kondisi normal atau pun dalam krisis politik, selalu menghasilkan dua alternatif: kehancuran dan kebangkitan. Setiap krisis politik akan melahirkan pahlawan dan bajingan. Bagi mereka yang berpandangan…
Ketika pilkada DKI putaran kedua berlangsung pada Juli 2012 lalu, sempat muncul berita mengagetkan mengenai fakta sebenarnya kondisi hidup dan tingkat kesejahteraan rakyat Kota Solo, yang jaun berbeda dengan pemberitaan…
“Bagus ! Rakyat harus diberitahu sebenar – benarnya dan selengkap – lengkapnya mengenai siapa Jokowi sesungguhnya, apa agenda pribadi dan agenda asing, dan terpenting apa maksud dan tujuan sebagian pengusaha besar Tionghoa yang semua bersatu padu mendukung pencapresan Jokowi dengan segala cara, daya, bantuan jaringan media media dan bantuan dana. Rakyat harus disadarkan betapa bahaya bagi bangsa dan negara jika Indonesia dipimpin oleh seorang presiden boneka. Presiden yang tunduk dan patuh pada perintah dan keingan tuannya, para pengusaha besar tionghoa, yang selama ini dikenal sebagai perusak dan pencuri kekayaan negara. Maksud saya para pengusaha tionghoa pendukung Jokowi itu lho, bukan semua pengusaha Tionghoa. Masih banyak pengusaha Tionghoa yang merah putih, nasionalis, berjiwa raga Indonesia.”
Track Record PDIP Jual Aset Negara Sulit Dihapus Meski Jokowi Capres
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Track record PDI Perjuangan di bawah komando Megawati Soe
Track Record PDIP Jual Aset Negara Sulit Dihapus Meski Jokowi Capres
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Track record PDI Perjuangan di bawah komando Megawati Soekarnoputri kala menjabat Presiden, banyak menjual aset negara mulai dari satelit, gas, sampai kapal tanker VLCC milik Pertamina.
Menurut pengamat politik dari Universitas Indonesia, Agung Suprio, meski Jokowi diusung menjadi calon Presiden (capres) dari PDI Perjuangan, namun track record PDIP di masa lalu sulit dihapus dan jus...tru bisa terulang lebih parah jika Jokowi masih bisa didikte partai. Hal itu diungkapkannya mengingat sikap Jokowi selama ini yang sangat manut apapun yang dikatakan Megawati sebagai Ketua Umum PDIP. "Noda tersebut akan datang kembali bahkan lebih pekat dan sulit dihapus jika memang Jokowi terlalu didikte partai yangg punya track buruk dalam penjualan aset negara," ujar Agung kepada Tribunnews.com, Senin (24/3/2014). Dikatakannya, jika memang PDIP tak mau mengulang sejarah penjualan aset negara, maka Jokowi sebagai capres yang diusung partai berlambang banteng moncong putih tersebut seharusnya berani mengemukakan visi misi pengelolaan aset negara dan berani berkampanye untuk menempatkan Menteri dari kalangan profesional dan non partisan. "Sayangnya kampanye Jokowi miskin program. Yang ditampilkan adalah sosoknya yang sederhana. Kampanye yang menguras perasaan tapi mengesampingkan akal sehat," tukasnya. Sebelumnya, sindiran yang ditujukan kepada PDIP karena dinilai gemar menjual aset negara, diungkapkan Wakil Sekjen Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Fahri Hamzah lewat akun twitternya. Fahri menyinggung beberapa kebijakan Megawati kala menjadi Presiden, yang dinilai merugikan karena menjual aset Negara.karnoputri kala menjabat Presiden, banyak menjual aset negara mulai dari satelit, gas, sampai kapal tanker VLCC milik Pertamina.
Menurut pengamat politik dari Universitas Indonesia, Agung Suprio, meski Jokowi diusung menjadi calon Presiden (capres) dari PDI Perjuangan, namun track record PDIP di masa lalu sulit dihapus dan jus...tru bisa terulang lebih parah jika Jokowi masih bisa didikte partai. Hal itu diungkapkannya mengingat sikap Jokowi selama ini yang sangat manut apapun yang dikatakan Megawati sebagai Ketua Umum PDIP. "Noda tersebut akan datang kembali bahkan lebih pekat dan sulit dihapus jika memang Jokowi terlalu didikte partai yangg punya track buruk dalam penjualan aset negara," ujar Agung kepada Tribunnews.com, Senin (24/3/2014). Dikatakannya, jika memang PDIP tak mau mengulang sejarah penjualan aset negara, maka Jokowi sebagai capres yang diusung partai berlambang banteng moncong putih tersebut seharusnya berani mengemukakan visi misi pengelolaan aset negara dan berani berkampanye untuk menempatkan Menteri dari kalangan profesional dan non partisan. "Sayangnya kampanye Jokowi miskin program. Yang ditampilkan adalah sosoknya yang sederhana. Kampanye yang menguras perasaan tapi mengesampingkan akal sehat," tukasnya. Sebelumnya, sindiran yang ditujukan kepada PDIP karena dinilai gemar menjual aset negara, diungkapkan Wakil Sekjen Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Fahri Hamzah lewat akun twitternya. Fahri menyinggung beberapa kebijakan Megawati kala menjadi Presiden, yang dinilai merugikan karena menjual aset negara.
Di Atas Cahaya SAYA GAK MENDUKUNG SIAPAPUN PRESIDENNYA,KARENA SAYA PUNYA PEMIMPIN SENDIRI SAMPE MATI YAITU RASULULLAH SAW. SAYA GAK MENDUKUNG SIAPAPUN CAPRESNYA ,NAMUN KALAU COBA2 BERBOHONG SEPERTI JOKOWI YG NGAKU2 HAJI DAN SOK SUCI ,YA TERPAKSA SAYA KATAKAN SIAPA JOKOWI ITU,KARNA SAYA INI YG PERNAH MAKAN TIDUR BERSAMA JOKOWI. SEBENARNYA SAYA GAK MAU IKUT CAMPUR MASALAH CAPRES, TAPI KARENA JOKOWI SUDAH MELAMPAUI BATAS DALAM DUSTANYA ,YA INI YG TERJADI, YG SHARUSNYA KELAKUAN BEJATNYA GAK KETAHUAN ORNG SEKARANG ORANG PADA TAU KEBEJATANNYA, SEMUA ITU KSALAHN JOKOWI SENDIRI YG TDK HATI2. ASAL BICARA GAK MIKIR DIRINYA MENYIMPAN SEGUDANG BANGKAI ,DAN GAK MIKIR KALAU KEJADIAN ITU SEMUA SAKSI2NYA MASIH HIDUP DAN SIAP BICARA. JANGAN MENGAKU HAJI LAGI KALAU GAK INGIN SEMAKIN PARAH KASUSNYA TERBONGKAR. Di Atas Cahaya YG JELS JOKOWI SEORANG PENGHIANAT,KUTU LONCAT, MENGABAIKAN AMANAH. DARI SITU AJA SUDAH JLS JOKOWI BUKANLAH BERJIWA SEORANG PEMIMPIN,NAMUN PERUSAK DAN PEMECAH BELAH PERSATUAN SEPERTI DALAM MISI YAHUDI YG BERKEDOK DI BALIK NAMA ROTARY CLUB YG DI PIMPIN ISTRINYA SENDIRI, SAYA BERKATA BEGITU KARNA SAYA JUGA DULU MNJALANKAN MISI ITU SWAKTU SYA MASIH DI DLM ANGGOTA ROTARY CLUB. MISI ITU HALUS DAN HAMPIR TIDAK KELIHATAN, SEKARANG SUDAH SYA KATAKAN DAN BANYAK JUGA MEDIA YG SUDAH MENGETAHUI SIAPA JOKOWI DI BALIK ROTARY CLUB ITU. Di Atas Cahaya JOKOWI ITU BAJINGAN YG NGAKU2 HAJI,SAYA TAU HITAM PUTIH ,TINDAK TANDUK ASUSILA JOKOWI SMPE PUNYA ANAK GAK DI AKUI,YG BERNAMA SRI WAHYUNI, KEMARIN SUDAH SAYA SINGGUNG DI GROUP RELAWAN JOKOWI PRESIDEN, SEBENARNYA SAYA GK MAU MEMBONGKAR AIB JOKOWI,TPI KARNA JOKOWI NGAKU2 SUDAH BERHAJI DRI THN 1997 MAKA TERPAKSA SAYA BUKA SUARA, KARNA DI THN ITU SAYA MASIH BERSAMA JOKOWI,DI SOLO, JANGANKAN HAJI ,DI RUMAH SAJA GAK PERNAH SHALAT, SUDAH BANYAK TERBUKTI,SAMPE TEREKAM CCTV JOKOWI BERWUDHU PUN GAK BECUS, MAAF SAYA KASAR MEMBICARAKAN JOKOWI KARNA JIWA JOKOWI BUKAN JIWA MANUSIA NAMUN BERJIWA BINATANG YG GAK MAU MENGAKUI 1 ORANG ANAK NYA HASIL ASUSILANYA YG SALAH SATUNYA BERNAMA SRI WAHYUNI, SEKARANG BERUMUR 17 THN LEBIH. DIA TINGGAL BERDUA DGN IBUNYA TANPA NAFKAH DAN TDK DI AKUI OLEH HANDOKO ALIAS JOKOWI. DAN KETAHUILAH JOKOWI BUKAN BERAGAMA ISLAM NAMUN SYIAH RAFIDHAH . MAKA JANGN HERAN KALAU JOKOWI BERTAKIYAH ,FITNAH SANA SINI DAN BERHIANAT KPDA PENDUKUNGNYA SETELAH DIA SUKSES, SUDAH BANYAK PENDUKUNGNYA DI HIANATINYA,ITULAH JIWA JOKOWI, SI KUNYUK YG NGAKU BERHAJI THN 1997[]
CSIS = Cina Senang, Israel Senang By nahimunkar.com on 25 April 2014 . Cina dan Israel mempunyai kepentingan yang sama, yaitu melemahkan dan menghancurkan golongan Islam di Indonesia. Cina dan Israel sudah menguasai ekonomi nasional Indonesia. Tinggal selangkah lagi, menguasai kedaulatan politik. … , melalui tokoh boneka seperti “Jokowi” sekarang ini, kelompok-kelompok Cina dan Zionis, menggunakan kekuatan lokal, mengendalikan Indonesia, supaya Indonesia tetap terjajah, sumber daya alamnya dikuasai, dan secara politik dikendalikan, sehingga tidak menjadi ancaman bagi : “Asing dan A Seng”. JAKARTA – CSIS itu identik dengan istilah “Cina Senang, Israel Senang”. Karena, CSIS itu berdiri dari kolaborasi antara tokoh dan aktifis Katolik (Ordo Jesuit) dengan jenderal “abangan”. Diantara, kalangan aktivis Katolik, seperti Pater Beek, Hary Tjan Silalahi, Sofjan Wanandi (Liem Bian Kie), Yusuf Wanandi (Liem Bian Koen), dan Markus Wanandi, Mari Elka Pangestu, Daud Yusuf, dan sejumlah tokoh lainnya. Para tokoh militernya, yang berkolaborasi dengan kalangan aktivis Katolik, seperti Jenderal Ali Moertopo, Soedjono Humardani, dan Beny Murdani. Mereka inilah yang menjadi ‘backbone’ (tulang punggung) Soeharto, selama berkuasa. Mereka berada di balik semua kebijakan yang menindas dan menghancurkan golongan Islam. CSIS menjadi ‘cover’ kepentingan Cina dan Zionis-Israel, yang ingin mengendalikan Indonesia. Maka, sepanjang kekuasaan Soeharto, selama lebih tiga dekade, CSIS memberikan arah kebijakan yang tujuan ‘menukangi’ Islam, dan memberikan keleluasaan kepada kelompok Cina, yang merambah ke semua sektor ekonomi Indonesia. Maka, selama tiga dekade, kelompok Cina, yang mula-mula ‘gembel’ dengan dukungan para jenderal ‘abangan’ yang memiliki akses langsung kepada kekuasaan Soeharto, mendapatkan berbagai privilege (keistimewaan), seperti mendapatkan lisensi (izin), modal, dan dukungan politik dari Soeharto. Hanya dalam waktu kurang dari satu-setengah dekade, kelompok yang menjadi pilar kekuasaan Soeharto itu, sudah berhasil menguasai ekonomi Indonesia. Kelompok Cina ini, mula-mula oleh Soeharto diberi lisensi ‘HPH’ (Hak Pengelolaan Hutan), yang membuat mereka menjadi ‘kaya raya’ alias menjadi ‘taipan-konglomerat’, seperti Liem Sieo Liong, Prayogo Pangestu, Eka Cipta, dan sejumlah konglomerat lainnya. Inilah cikal bakal lahirnya 200 konglomerat Indonesia, yang menguasai 80 persen ekonomi Indonesia. Masih ditambah diakhir krisis ekonomi Indonesia l998, Soeharto mengeluarkan kebijakan dana talangan (bailout) kepada sejumlah bank yang menjadi milik konglomerat Cina, dan mereka memarkup bailout, yang dikenal BLBI yang jumlahnya mencapai Rp 650 triliun. Diantara mereka ada yang melarikan hasil ‘rampokan’ mereka ke Singapura. Sementara itu, Jenderal Ali Moertopo, terus menyudutkan golongan Islam, melalui isu ‘Komando Jihad’, DOM di Aceh, Pembajakan Woyla, Tanjung Priok, Talangsari-Lampung, semuanya ini hanyalah tujuannya menghancurkan umat Islam. Bahkan, Ali Moertopo, di awal Orde Baru, melarang investor asing melakukan kerjasama dengan pengusaha Islam. Tujuan menghancurkan ekonomi kalangan Islam dan pribumi. Jadi, golongan Islam dibuat oleh jaringan Cina Katolik (Ordo Jesuit) menjadi ‘zero’ (nol) di dalam segala sektor kehidupan, sampai menjadi golongan yang paria (gembel). Sekarang, menjelang pemilu presiden 2014, masuk kelompok Cina Kristen, yang ingin mengulangi lagi, seperti sejarah awal Orde Baru, dan menggunakan tokoh ‘abal-abal’ Jokowi. Tujuannya sama : “Menghancurkan dan menindas golongan Islam”. Tokoh yang baru muncul sekarang itu, Jacob Soetojo. Dia dekat dengan James Riyadi, pendeta Evengalis, yang menjadi murid Pendeta Pat Robertson, yang sangat membenci Islam dan umat Islam di Amerika. Pat Robertson, terlalu sering mengeluarkan pernyataan yang sangat membenci terhadap Islam. Dengan kata-kata yang ‘super jorok’ menghina Islam dan Nabi Muhammad Shallahu’alaihi Wassalam. Sekarang, bagaimana Jacob Soetojo bisa menggalang dukungan dari Amerika, Inggris, Vatikan, dan sejumlah negara Barat lainnya, dan kemudian mereka bertemu dengan Mega, Jokowi dan Sabam Sirait di rumahnya. Sungguh luar biasa. CSIS ingin kembali menukangi “merekayasa” perubahan politik yang akan menguntungkan bagi : “Cina dan Israel”. Indonesia yang penduduknya 240 juta itu, 85 persen Muslim. Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis, secara geopolitik dan ekonomi. Maka, CSIS yang menjadi ‘cover’ berbagai kepentingan itu, sudah bersumpah, harus “Jokowi” yang menjadi presiden Indonesia mendatang. Mengapa Zionis-Israel ikut bermain di Indonesia? Ini bisa dilihat intensitas kunjungan Dubes Israel di Singapura ke Jakarta, dan melakukan pertemuan dengan berbagai kelompok dan organisasi, dan ingin merekayasa perubahan politik di Indonesia, tetap menguntungkan bagi kepentingan Zionis-Israel. Cina dan Israel mempunyai kepentingan yang sama, yaitu melemahkan dan menghancurkan golongan Islam di Indonesia. Cina dan Israel sudah menguasai ekonomi nasional Indonesia. Tinggal selangkah lagi, menguasai kedaulatan politik. Bayangkan, 85 persen saham perbankan sudah milik asing. Freeport, New Mont, Bumi Resources (Batu Bara), gas dan sumber daya lainnya, termasuk hutan, kelapa sawit, sudah menjadi milik mereka. Sementara itu, Israel tidak ingin di Indonesia terjadi seperti di Timur Tengah, terjadi ‘Arab Spring’ (Musim Semi Arab), perubahan politik di dunia Arab, yang membahayakan kepentingan dan keamanan Israel. Maka, melalui tokoh boneka seperti “Jokowi” sekarang ini, kelompok-kelompok Cina dan Zionis, menggunakan kekuatan lokal, mengendalikan Indonesia, supaya Indonesia tetap terjajah, sumber daya alamnya dikuasai, dan secara politik dikendalikan, sehingga tidak menjadi ancaman bagi : “Asing dan A Seng”.(jj/db/voa-islam.com) Jum’at, 24 Jumadil Akhir 1435 H / 25 April 2014 08:35 wib (nahimunkar.com) - See more at: http://www.nahimunkar.com/csis-cina-senang-israel-senang/#sthash.eFCmgkIE.x586vOER.dpuf
Dibalik Dukungan Luhut Panjaitan Kepada Jokowi
Dukung mendukung capres-cawapres adalah soal biasa, termasuk jika datang dari ulama, pengusaha, tentara. Tapi yang agak luar biasa adalah dukungan terhadap Jokowi yang datang dari tentara, yang diketahui masih berafiliasi dengan lawan sang Gubernur. Luhut Panjaitan Cs, yang mendukung pencapresan Jokowi, adalah salah satu tulang punggung Golkar dan ARB. Lalu bagaimana memaknai dukungan mereka? Saya melihatnya sebagai hal yang perlu dicermati secara kritis.
Pasangan Jokowi - Iriana dikaruniai 3 anak: Gibran Rakabuming (25 th), Kahiyang Ayu (22 th), dan Kaesang Pangarep (18 th). Apa yang dikemukakan Iriana soal bisnis mebeler yang dijalankan adik-adiknya Jokowi benar. Fakta terjadinya kebakaran di lokasi Rakabu Furniture dan beredarnya dokumen audit dari sucofindo menjawab itu semua. Namun, menyisakan pertanyaan besar pengurus perusahaan itu di tahun 2013 masih atas nama Joko Widodo. Di berbagai media lalu muncul pendapat bahwa negara dan rakyat telah dikelabui Jokowi sejak tahun 2005 sampai 2013. Karena UU menyatakan Kepala daerah harus melepas kepengurusan baik di yayasan, perusahaan dll. Apakah kesalahan Administratif atau lupa?
Informasi lain di dunia maya juga menyebutkan soal bisnis anak tertua Jokowi yang masih berusia 25 tahun, Gibran Rakabuming. Dalam satu kesempatan disebutkan, Gibran mengaku memulai usaha dengan pinjaman dari bank sebesar Rp 1 miliar. Bidang usaha yang dilakoninya adalah bisnis katering. Luhut Panjaitan mengaku punya kepemilikan di PT Rakabu Sejahtera. Adalah sejak 2009, Luhut menggandeng Gibran yang saat itu masih berusia 20 tahun untuk mendirikan Rakabu Sejahtera. Modal awal PT Rakabu sejahtera itu sebesar 16, 19 miliar yang berasal dari Gibran, dan sisanya dari Luhut atas nama Toba Sejahtra sebesar Rp 15,55 miliar.
Pertanyaannya alasan Luhut mau bekerjasama dengan anak muda yang masih berusia 20 tahun itu? Dan dari mana anak muda yang sedang bersekolah di Singapura itu memiliki uang lebih dari Rp 16 miliar? Jokowi sendiri, masih dalam informasi itu disebutkan, punya kekayaan sebesar Rp 10,7 miliar pada 2005, dan meningkat menjadi Rp 14 miliar pada tahun 2008. Kemudian pada tahun 2012 meningkat lagi menjadi 27,2 miliar. Kekayaaan ini naik karena Kenaikan nilai jual obyek pajak (NJOP) tanah dan bangunan.
Kenaikan juga bukan karena kemajuan bisnisnya, tidak sebanding pendapatan dari bisnis mebel nya. Pertanyaannya kemudian, Jika hampir semuanya kekayaannya berbentuk aset, dari mana uang setoran Gibran Rakabuming yang lebih dari 16 Milyar itu? Biarlah Jokowi menjawab ke publik..
JARINGAN KATOLIK / KRISTEN - CUKONG CINA - LIBERAL DI BELAKANG JOKOWI
Tentu banyak yang terperangah ketika Jacob Soetoyo bisa mempertemukan beberapa duta besar negara-negara ‘hiu’ dengan Jokowi dan Megawati. Siapa sebenarnya Jacob Soetoyo?
Jacob memang lebih dikenal sebagai pengusaha. Tapi, dalam konteks menjadi fasilitator pertemuan Jokowi-Mega dengan para duta besar tersebut, tentu kapasitasnya sebagai bagian dari CSIS [Centre for Strategic and International Studies]. Sudah banyak yang tahu bahwa CSIS merupakan lembaga pemikir Orde Baru yang memberikan masukan strategi ekonomi dan politik pada Soeharto. Tapi, yang belum banyak diketahaui adalah hubungan CSIS dengan organisasi fundamentalis Katolik bernama Kasebul [kaderisasi sebulan] yang didirikan oleh Pater Beek, SJ.
Pada awalnya, Kasebul didirikan untuk memerangi komunisme. Setelah komunisme [PKI] dihancurkan oleh Soeharto, tujuan Kasebul beralih melawan dominasi Islam. Pater Beek, seorang rohoniawan Jesuit kelahiran Belanda, melihat bahwa setelah komunis tumpas ada lesser evil [setan kecil], yaitu: Islam. Untuk menghancurkan setan kecil tersebut, Pater Beek menganjurkan kaum fundamentalis Katolik dalam Kasebul bekersama sama dengan Angkatan Darat.
Selain itu, guna menghadapi ancaman Islam perlu dibentuk lembaga pemikir yang bisa mempengaruhi kebijakan pemerintah. Maka kemudian dibentuklah CSIS. Pater Beek mempunyai pemikiran sebagaimana diungkapkan Ricard Tanter:
“Visi [Pater] Beek pibadi atas peran Gereja, Gereja harus berperan dalam mengatur negara kemudian mengalokasikan orang-orang yang tepat untuk bekerja di dalam dan melalui negara.
Atas visi tersebut maka tugas dibebankan pada CSIS. Lembaga ini menurut Daniel Dhakidae merupakan penggabungan antara politisi dan cendekiawan Katolik dengan Angkatan Darat. Lembaga inilah yang kemudian memasok dan menjaga agar Orde Baru menerapkan negara organik versi gereja pra konsili Vatikan II.
Siapa sosok yang berperan dalam pendirian CSIS? Sosok tersebut adalah Ali Moertopo. Selama ini dikenal sebagai kepercayaan Soeharto, tapi kedekatannya dengan Pater Beek belum banyak terungkap Ali pertamakali bekerjasama dengan Pater Beek dalam operasi pembebasan Irian Barat. Berdasarkan catatan Ken Comboy, saat itu tugas Ali sebagai perwira intelijen. Pada saat yang bersamaan, Pater Beek juga berada di Irian Barat. Ia menyamar sebagai guru. Tugas sebenarnya dari Pater Beek adalah menjaga agar proses pembebasan Irian Barat tetap menguntungkan kepentingan Amerika. Tugas ini berhasil. Sebagaimana kita ketahui, sampai saat ini Freeport masih menguasai tambang emas di Papua.
Setelah CSIS berhasil dibentuk oleh Ali Moertopo, tugas pelaksa harian diserahkan pada 3 kader Kasebul Keturunan Cina Katolik Jusuf dan Sofian Wanandi { Liem Bian Koen } serta Harry Tjan Silalahi. Menurut Mujiburrahman, Jusuf dan Sofian Wanandi merupakan kader utama Kasebul yang dididik Pater Beek. Sewaktu mahasiswa dan pergolakan politik tahun 1965, keduanya menjadi bagian penting dari PMKRI [Pergerakan Mahasiswa Katolik Indonesia]. Sedangkan Harry Tjan Silalahi kader Kasebul yang ditempatkan di Partai Katolik sebagai sekretaris jenderal. Tiga orang inilah yang hingga sekarang menahkodai CSIS. Lewat lembaga inilah kebijakan anti Islam dijalankan.
Pater Beek memang piawai dalam usaha menghancurkan Islam. Ia tidak hanya memakai orang Katolik seperti Jusuf Wanandi dan Harry Tjan untuk melakukannya, tapi juga memakai orang Islam sendiri. Ali Moertopo, misalnya, ia tumbuh dari keluarga santri, tetapi lewat CSIS dan Operasi Khususnya justru mengobok-obok Islam. Sebut nama lain seperti Daoed Joesoef. Ia seorang muslim asal Sumatera Timur, tapi berhasil digunakan oleh Pater Beek untuk membuat kebijakan yang merugikan umat Islam. Sewaktu menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, ia melarang sekolah libur pada hari Ramadhan dan siswi yang beragama Islam dilarang menggunakan jilbab.
Bahkan tidak hanya itu. Kader Pater Beek dalam Kasebul juga dilatih menyusup dengan pindah agama menjadi Islam. Sebut saja Ajianto Dwi Nugroho. Sewaktu masih mahasiswa di Fisipol UGM ia berpacaran dengan mahasiswa IKIP Yogyakarta [sekarang UNY] yang berjilbab. Sekarang ia menikah dengan janda beranak satu yang beragama Islam. Dan, Ajianto saat ini mempunyai KTP yang mencantumkan agamanya adalah Islam. Ajianto merupakan kader Kasebul generasi baru yang masuk dalam lingkaran jasmev pada era Pilkada DKI untuk memenangkan Jokowi. Sekarang ia bergabung dalam lingkaran PartaiSocmed dengan target menjadikan Jokowi sebagai presiden. Itulah kehebatan kader-kader Kasebul dalam menjalankan misinya.
Nah, kenapa tiba-tiba Jacob Soetoyo muncul? Tentu saja ini berkaitan dengan persaingan para cukong di lingkaran Jokowi sendiri. Sudah banyak diketahui, James Riyadi telah mendukung Jokowi sejak awal. Selain dikenal sebagai pengusaha papan atas, yang belum banyak diketahui, ia adalah pemeluk fundamentalis Kristen. Ia dikenal sebagai pemeluk Kristen Evangelis. Di Amerika, aliran ini dikenal radikal dan fundamentalis. Salah satu pengikutnya adalah adalah keluarga Bush. Sikap anti Islamnya sudah mendarah daging. Ketika menjadi presiden, George W. Bush memerintahkan pasukannya untuk membantai ratusan ribu umat Islam di Afghanistan dan Irak. Inilah yang dianggap sebagai ancaman oleh fundementalis Katolik dalam lingkaran CSIS. Apalagi James Riyadi secara atraktif lewat familinya, Taher, mendatangkan Bill Gates ke Indonesia dengan tujuan agar seolah-olah Jokowi mendapatkan dukungan dari pengusaha papan atas Amerika Serikat.
Sudah menjadi rahasia umum, walaupun sama-sama memusuhi Islam, antara fundamentalis Katolik dan fundamentalis Kristen terjadi permusuhan yang sengit [pandangan mereka yang Islamphobia tentu saja tak mewakili pandangan mayoritas umat Nasrani di Indonesia yang sebagian besar menghargai toleransi]. Melihat manuver James Riyadi yang sudah dianggap kelewatan, maka turun tangalah Jacob mewakili lingkaran CSIS. Rupanya James melupakan bahwa ada dua jaringan di Indonesia yang mempunyai hubungan kuat dengan Amerika Serikat: CSIS dan PSI [Partai Sosialis Indonesia]. Jaringan CSIS pun unjuk taring. Tidak tangung-tangung mereka mengumpulkan duta besar dari negara berpengaruh antara lain: Amerika Serikat, China dan Vatikan. Begitu kuatnya pengaruh CSIS sampai-sampai duta-duta besar tersebut mau berkumpul di rumah Jacob yang tidak dikenal sebelumnya. Saking berpengaruhnya pula, Megawati, seorang mantan Presiden RI, bersedia mengikuti skenario CSIS. Di sinilah perang di antara cukong-cukong Cina pendukung Jokowi antara faksi James Riyadi [Kristen] dengan faksi Jacob/CSIS/kasebul [Katolik] mulai ditabuh. Mereka semua melihat bahwa Jokowi akan menang Pilpres sehingga masing-masing perlu menanamkan pengaruh sejak awal.
Manuver CSIS lewat Jakob ini tentu membuat resah kubu James Riyadi. Pasca pertemuan tersebut media dalam kendali James Riyadi mulai mengungkit-ungkit peranan CSIS sebagai lembaga yang pada era Soeharto ikut mengebiri PDI. Megawati diingatkan tentang fakta itu. Tujuan akhirnya tentu saja agar Mega dan Jokowi menjauh dari CSIS sehingga James Riyadi bisa dominan lagi. Tapi jangan sampai dilupakan bahwa kubu CSIS/Jusuf Wanandi mempunyai koran The Jakarta Post, sebuah koran berbahasa Inggris yang cukup berwibawa, yang bisa melakukan serangan balik. Kita tahu sendiri, sekali memberitakan bahwa Puan mengusir Jokowi dari rumah Megawati, peta politik di internal PDIP berubah dratis. Puan tiba-tiba hilang, Megawati seperti tak memikirkan lagi koalisi, dan Jokowi seperti anak kehilangan induk, ke sana-kemari mencari teman koalisi.
Tapi, jangan dilupakan faksi Partai Sosialis Indonesia [PSI]. Partai yang didirikan Sutan Sjahrir pada era Seokarno ini memang sudah tak ada, tapi kadernya sampai saat ini masih bergentanyangan. Tokoh-tokoh PSI seperti Goenawan Mohamad terang-terangan sudah mendukung Jokowi. Ia menggunakan jaringan-jaringan yang dimilikinya seperti Jaringan Islam Liberal [JIL], Tempo grup sampai orang-orang Kiri yang berhasil dikadernya seperti Coen Husein Pontoh dan Margiyono—dulu anggota PRD yang kemudian murtad dengan mendirikan Perhimpunan Demokratik Sosialis [PDS]; PDS ini pendiriannya tidak bisa dilepaskan dari sosok Goenawan Mohamad; pendeklarasian organisasi ini dilakukan di Teater Utan Kayu [TUK]—yang sekarang melakukan manipulasi-manipulasi terhadap ajaran Marxisme agar bisa dijadikan dalih untuk mendukung Jokowi. Semua itu satu komando untuk mendukung Jokowi.
Selain Goenawan, ada faksi PSI yang dikomandoi oleh Jakob Oetama dengan kelompok Kompas-nya. Mereka mempunyai media nasional yang sudah sejak lama telah menggoreng Jokowi lewat pemberitaan-pemberitaannya. Sebagai sesama Katolik, Kompas grup tentu bisa bekerjasama dengan kubu CSIS. Mereka sama-sama pernah dididik oleh Pater Beek. Bahu membahu antara keduanya tentu saja akan menghasilkan kekuatan yang besar dengan jaringan media yang sudah mengakar kuat.
Dari lingkaran PSI lainnya ada Yamin. Ia salah satu yang membidani kelahiran Seknas Jokowi. Sewaktu mahasiswa pada tahun 80-an, ia aktif di kelompok kiri Rode yang berada di Yogyakarta. Ia dekat dekat dengan tokoh PSI Yogyakarta, Imam Yudhotomo. Yamin disokong aktivis kiri era 80-an, Hilmar Farid. Ia dulu pernah terlibat dalam masa-masa pembentukan PRD. Mantan istrinya, Gusti Agung Putri Astrid, merupakan kader Kasebul yang banyak terlibat dengan aksi-aksi sosial pada era 90-an; ia sekarang menjadi caleg PDIP dari dapil Bali. Peran Hilmar adalah sebagai perumus strategi yang perlu diambil Seknas Jokowi menghadapi Pilpres.
Faksi PSI lainnya ada Fajroel Rachman. Ia dulu dikenal sebagai aktivis mahasiswa ITB. Ia dekat dengan tokoh PSI zaman Orde Lama, Soebadio Sastrosastomo. Kelompok Fajroel ini sebetulnya yang paling lemah karena tidak mempunyai koneksi apa-apa. Makanya ia hanya bergerak di media sosial saja dengan mengandalkan jumlah follower di akun twitternya.
Di antara faksi-faksi PSI tersebut, yang mempunyai hubungan kuat dengan Amerika Serikat adalah faksi Goenawan Mohamad. Sebagaimana ditulis oleh Wijaya Herlambang, Goenawan adalah agen CIA yang sudah dipekerjakan sejak akhir era Soekarno. Begitu kuatnya hubungan Goenawan dengan Amerika bisa dilihat ketika ia kalah dalam sengketa dengan pengusaha Tomy Winata, Dubes AS turun langsung untuk “mendamaikan” kasus tersebut agar tidak berlarut-larut. Goenawan pula yang dulu ikut memuluskan langkah Boediono menjadi wakil presiden. Sebetulnya ia ingin mendorong Sri Mulyani maju, tapi partai SRI tidak lolos. Goenawan dan Sri Mulyani memang dekat. Ketika Sri Mulyani diserang Ical dalam kasus Bank Century sampai akhirnya ia mundur sebagai Menkeu, Goenawan amat marah sampai-sampai mengembalikan Bakrie Award yang pernah diterimanya.
Silahkan mengobrak-abrik semua analisa politik, tetap saja penyokong utama Jokowi ada tiga itu: fundamentalis Katolik [CSIS/Kasebul], fundamentalis Kristen / Cukong Cina [James Riyadi dkk], dan faksi PSI [Goenawan Mohamad dkk]. Nah, mengapa mereka turun bersama-sama mendukung Jokowi?
Bangkitnya Islam politik tentu saja dianggap sebagai ancaman. Sepanjang Pemilu Orde Baru, perolehan suara partai Islam dalam Pemilu 2014 adalah yang terbesar. Suara PKB, PAN, PKS, PPP dan PBB bila digabungkan mengungguli partai-partai yang lain. Tentu saja yang dianggap yang paling berbahaya adalah PKS. Sebelum Pemilu, PKS sudah dikesankan oleh berbagai lembaga survei [termasuk CSIS] tidak akan lolos ke Senayan. Senyatanya mereka masih memperoleh suara 7 persen—yang bisa jadi jumlah kursinya bisa menduduki peringkat ke empat di Senayan.
PKS dikenal dengan kader-kadernya dari kalangan kelas menengah. Kader-kader mereka selain militan juga tidak anti terhadap pendidikan Barat. Bayak kadernya yang kuliah di Amerika Serikat, Inggris dan Eropa. Walaupun berpikiran modern, mereka dikenal taat menjalankan ajaran Islam, baik yang wajib maupun sunnah. Mereka juga dikenal melek teknologi, berbeda dengan dengan Taliban, misalnya. Inilah yang menakutkan bagi tiga pendukung Jokowi di atas kalau sampai PKS menjadi partai yang berkuasa. Oleh sebab itu, oleh kalangan PSI, baik faksi Goenawan Mohamad maupun faksi Fajroel, PKS yang menjadi sasaran serangan. Silakan amati sendiri serangan-serangan mereka terhadap PKS di media sosial. Kadang kala serangan terhadap PKS juga dilancarkan lingkaran Kasebul di lingkaran PartaiSocmed. Gampang saja, kalau ada serangan kepada PKS, lihat saja latar belakangnya, pasti akan berkaitan dengan tiga komponen di atas: fundamentalis Katolik dan Kristen, serta PSI [ dan orang-orang Kiri yang diperalat tiga penyekong Jokowi tersebut]
Agar tak menyatu, partai yang berideologi Islam dibuat bimbang. Para pengamat sudah mulai bekerja dengan berbagai argumentasi bahwa poros partai-partai Islam sulit untuk diwujudkan. Terutama PKS yang akan dijadikan target kebimbangan ini. Mereka tak begitu khawatir dengan PKB, misalnya. Sosok Muhaimin Iskandar sudah dikenal sebagai orang pragmatis. Gus Dur saja ia khianati, apalagi umat Islam. PAN dan PPP juga hampir serupa. Sementara PBB suaranya tak signifikan. Tinggal PKS yang sulit dikendalikan. Apalagi sampai saat ini PKS tak mau membicarakan koalisi.
Kalau PKS nantinya akan mendukung Prabowo, maka akan diserang habis-habisan sebagai partai yang menyokong pelanggar HAM berat. Ini merupakan sasaran tembak yang empuk bagi kalangan PSI untuk menyerang PKS. Semisal PKS mendukung Ical, maka akan dihantam sebagai partai yang mendukung partai warisan Orde Baru: Golkar. Sementara itu, bila PKS akan membentuk poros partai Islam, akan diadu domba dengan sesama partai Islam. Maka diarahkan PKS untuk mendukung Jokowi. Dukungan ini penting untuk memperlihatkan bahwa Jokowi yang didukung Amerika lewat tiga tangannya tadi mendapatkan legitimasi dari partai Islam yang ideologis, yaitu PKS. Maka oponi pun diarahkan dengan berbagai argumentasi agar PKS merapat ke Jokowi. Bila jebakan ini berhasil menjerat PKS sehingga kemudian mendukung Jokowi dan tak berhasil membangun poros sendiri, maka hanya satu kata:wassalam. Satu benteng itu telah runtuh.
Sebagai penutup, dari semua uraian di atas, Jokowi sebetulnya tidak lebih hanyalah boneka bunraku. Boneka tersebut dimainkan dalam pertunjukkan sandiwara Jepang untuk menghibur kalangan bangsawan. Dan, bangsawan-bangsanwan yang terhibur dengan boneka bunraku bernama Jokowi bila kelak menjadi presiden adalah: fundamentalis Katolik [CSIS/Kasebul], fundamentalis Kristen / Cukong Cina [James Riyadi dkk] dan PSI [Goenawan Mohamad dkk]—yang ketiganya merupakan kaki tangan ndoro-ndoro di Amerika Serikat sana.
Pertanyaannya: apakah kita akan memilih boneka bunraku untuk memimpin 250 juta lebih penduduk Indonesia?***
by Dani basayev
::
BONGKAR - BONGKAR ::
>>STOP MISI KRISTENISASI<<
::WASPADAI demi KONSPIRASI BUSUK Katolik terhadap Islam dibalik Pencapresan Jokowi::...
Tokoh Penghina Nabi dan CUKONG serta Liberal bilang : Jokowi Itu Anugerah Tuhan.
Bos Kompas(KOMando PAStor) Gramedia Group, "JAKOB OETAMA" walau telah berusia tua namun masih gesit memainkan peran strategis kepentingan ideologi kelompoknya. Tokoh misionaris Katolik paling berpengaruh di dunia pers nasional ini , belakangan disebut-sebut sebagai aktor utama dalam "grand design" koalisi PDIP, cukong (kapitalis) dan jaringan Katolik.
Di balik layar, Jakob Oetama dan komplotannya bergerak rapi menyusun berbagai rangkaian opini mendongkrak popularitas Jokowi- Ahok. Melalui jaringan media dan relawan dari ratusan yayasan yang bernaung di bawah Kompas Gramedia Group mengusung tekat: "hadang kebangkitan Islam", ihwal operasi politik terselubung tersebut semakin agresif dilancarkan.
Hampir setiap hari, Kompas dan jaringan mitranya, menggulir serangkaian isu-isu yang bergerak dalam dua kanal opini:
(pertama) Mendongkrak pencitraan Jokowi-Ahok sembari mengkonsolidasikan PDIP sebagai partai pemenang pemilu.
(kedua) membenturkan para tokoh dan partai Islam, serta aktif meredam pengaruh figur nasional dengan aneka stigma korupsi, pelanggaran HAM dan sebagainya.
Konspirasi Kompas Gramedia Group kian berlangsung efektif melibatkan komunitas Katolik yang terkenal solid serta dukungan cukong (kapitalis Tionghoa). Maka tak heran, rekayasa pencitraan Jokowi-Ahok kian melaju dan menggulung pengaruh para lawan politiknya di berbagai saluran pers dan jaringan media sosial.
Hampir dua tahun, Kompas tercatat telah mempublish lebih dari 10 ribu berita dalam upaya mendongkrak pencitraan Jokowi-Ahok (data survei google). Bayangkan, bila satu berita dihargai Rp. 5 juta, maka lebih dari lima puluh miliar dana cukong telah mengalir deras ke kantong redaksi Kompas. Itu belum terhitung sumber masukan dari iklan dan kucuran lainnya.
Kecurigaan derasnya aliran dana cukong ke Kompas Gramedia Group telah menjadi pembicaraan yang mengemuka di berbagai kalangan. Di media sosial, sejumlah nama pengusaha Tionghoa yang memiliki kekayaan triliun rupiah ramai dipersoalkan. Yakni, praktek POLITIK UANG dalam jumlah besar dan berlangsung rapi di balik penampilan dari kepalsuan pencitraan Jokowi-Ahok.
Apakah konsiprasi busuk itu akan berlangsung mulus ??
Dinamika politik jelang Pemilu Legislatif dan Presiden seperti makin menimbulkan kekhawatiran. Berbagai kalangan masyarakat luas mulai mengambil sikap waspada terhadap kemunculan Jokowi-Ahok. Kedua boneka dari rekayasa politik Katolik, cukong dan PDIP itu kian menuai kecurigaan.
Bahkan di saluran media sosial mulai bermunculan suara-suara perlawanan dengan menegaskan bahwa jaringan Katolik, Cukong dan PDIP sedang bergerak memicu konflik sesama anak bangsa. Pasalnya, praktek politk uang dan persekongkolan ideologi di balik pencitraan Jokowi-Ahok dianggap telah mengarah pada pembodohan dan memporak-porandakan ASPIRASI UMMAT ISLAM.
Maklum Kompas sejak lama telah dikenal meluas sebagai media terdepan yang sangat getol melakukan upaya melemahkan harmoni ummat Islam. Di tahun 1990, media milik jaringan Katolik ini bahkan secara terbuka melancarkan penghinaan kepada Nabi Muhammad SAW dalam kasus "ARSWENDO ATMOWILOKO". Yang kemudian memicu kemarahan ummat dan pelakunya dijebloskan ke penjara.
Rupanya kebencian itu masih membekas dan kini sedang dipamerkan melalui modus canggih pencitraan Jokowi-Ahok. Wajar bila kemudian ummat Islam kini mulai bergerak dan menggalang perlawanan.
Beberapa waktu lalu, mantan wartawan senior Kompas "ARSWENDO ATMOWILOKO", sang penghina Nabi Muhammad tersebut melontarkan pernyataan bahwa: "Jokowi itu anugerah dari Tuhan, tinggal kita mau manfaatkan atau tidak. Jokowi dicalonkan, semuannya enggak penting lagi. Dia jawara," kata Arswendo di Din *** Fung Restaurant Pacific Place, Jakarta, Senin (9/13/merdeka.com).
Ironi, pernyataan Arswendo Atmowiloto seolah menegaskan bahwa Kompas(KOMando PAStor) jangan gentar memperjuangan BONEKA Jokowi sebagai jawara yang kelak diperalat bagi kentingan kelompok Katolik, PDIP dan Cukong.
Luar biasa: Bos kompas Jakob Oetama sukses menghadirkan kader-kader jurnalis sekaliber Arswendo Atmowiloto dengan cara pikir yang licik !
Ummat Islam harus lekas bangun dan menyadari misi2 busuk para kafir di Indonesia ini !
BANGUN UMMAT ISLAM SEINDONESIA...PILIHLAH PRESIDEN SEIMAN DAN AMANAH...JANGAN SALAH PILIH... JADIKAN SEJARAH CAMBUK PENGALAMAN BAGI PEJUANG-PEJUANG KITA DAHULU.
HILANGKAN PERBEDAAN....SATUKAN KEUTUHAN AGAMA ISLAM...MARI KITA SERUKAN MEMILIH PEMIMPIN ANTI BONEKA ASING...
JOKOWI TERNYATA ANAK PENGUSAHA CHINA SOLO, OEY HONG LIONG
Selama ini masyarakat Jakarta tidak sadar jika mereka dipimpin oleh duet orang orang Cina, Jokowi-Ahok. keraguan sebagian orang bahwa Joko Widodo alias Jokowi adalah seorang muslim. Contohnya Rhoma Irama. Ternyata dugaan itu benar!
Jokowi sebelum menjadi Walikota Solo, Jokowi adalah pengusaha sukses. Kesuksesanya itu berkat kerja keras, ulet dan punya naluri bisnis yang kuat. Etos seperti ini umum dimiliki orang Cina yang bergerak dalam bidang usaha.
Selama ini Jokowi mengaku bahwa namanya diberikan oleh orang Perancis, rekan bisnisnya. Hal ini disebabkan karena nama Joko terlalu umum dipakai oleh orang Jawa. Maka untuk membedakannya sang rekan bisnis memendekan nama panjang Joko Widodo menjadi Jokowi. Tetapi sebenarnya Jokowi adalah punya nama Cina yaitu Wie Jo Koh. Nama ini diberikan oleh orang tuanya berdasarkan nama seorang leluhurnya yang pertama kali datang ke Indonesia, Wie Jok Nyan. Sehingga jelaslah Jokowi adalah seorang Cina bermarga Wie.
Tulisan ini hanya rekaan semata yang disebabkan ide liar saya dan tidak ada kebenaranya
JOKOWI TERNYATA ANAK PENGUSAHA CHINA SOLO, OEY HONG LIONG!Pernahkah anda mencari tahu tentang latar belakang Joko Widodo alias Jokowi yang sesungguhnya? Tahukah anda siapa dia 2–30 tahun lalu? Tiba-tiba saja, tanpa banyak diketahui oleh rakyat banyak, nama Jokowi mendadak tenar, populer dan disanjung-sanjung oleh kelompok tertentu.Mengapa Media Massa terutama TV secara gegap gempita mencitrakan Joko Widodo? Tapi tidak pernah sedikitpun mengulas tentang Oey Hong Liong?Oey Hong... Liong, siapa yang kenal Oey Hong Liong? China solo ini memang selalu ditutup-tutupi media massa. Dia tidak lain adalah ayah kandung Joko Widodo.Ternyata mantan walikota Solo ini selain keturunan China, ternyata yang lebih parah adalah menjadi antek China. Jokowi bersahabat akrab dengan para Hoakiau (China Perantauan di Asia Tenggara).baca selengkapnya:AntiLiberalNews.com - http://antiliberalnews.com/2014/04/13/jokowi-ternyata-anak-pengusaha-china-solo-oey-hong-liong/ sebarkanlah.
Mengenal Oey Hong Liong ayah kandung Jokowi yg Ternyata Cina
Mengapa Media Massa terutama TV milik orang kafir secara gegap gempita mencitrakan Joko Widodo? Tapi tidak pernah sedikitpun mengulas tentang Oey Hong Liong?
Oey Hong Liong, siapa yang kenal Oey Hong Liong? China solo ini memang selalu ditutup-tutupi media massa. Dia tidak lain adalah ayah kandung Joko Widodo!
Ternyata mantan walikota Solo ini selain keturunan china, ternyata yang lebih parah adalah menjadi antek China. Jokowi bersahabat akrab dengan para Hoakiau (China Perantauan di Asia Tenggara)
Bahkan dana kampanye Gubernur DKI terakhir juga didanai dari para Hoakiau yang mayoritas adalah para Konglomerat hitam tersebut.
Tahukah anda, bahwa menjelang Pilgub DKI lalu ada ratusan anak muda tiap hari bekerja di sebuah gedung di kawasan TB Simatupang? Lantas, apa kerja mereka?
Mereka tergabung dalam Jokowi-Ahok Social Media Volunteers (JASMEV) atau yang dalam bahasa kita berarti Relawan Sosial Media untuk Jokowi-Ahok, dengan koordinatornya adalah Kartika Djumadi. Operasi mereka di dunia maya, melalui status dan komentar di facebook, twitter, dan kolom-kolom komentar berbagai media daring. Media massa milik orang china dan kafir, baik berupa TV, radio, media cetak, apalagi daring (online) secara gila-gilaan setiap hari bahkan setiap detik memberitakan kiprah Jokowi.
Banyak media daring terkemuka seperti detik.com, kompas.com, dan lainnya, dalam setiap harinya menurunkan puluhan berita aktivitas Jokowi dan pernyataan-pernyataannya yang “”Lugu”" dan “”Sederhana”" itu.
Jika ada pernyataan tokoh yang mengkritik, serta mereka akan bereaksi. sebut saja mantan Ketua Umum Muhammadiyah Amin Rais yang habis dibully setelah berkomentar negatif tentang Jokowi. Bagi mereka Jokowi pantang dikritik demi target mereka hingga Jokowi menjadi RI-1
Dan ada satu lagi Konglomerat China Kafir pemilik Lippo Group yang aktif dalam program KRISTENISASI, mendirikan 1000 sekolah Kristen sebagai praktik terselubung KRISTENISASI melalui bangku pendidikan. Salah satu contoh korban kristenisasi melalui sekolah kristen ini adalah PAULUS CAHYONO, pelawak yang dikenal dengan sebutan: CAHYONO, namun Alhamdulillah beliau tersadar dan kembali pada fitrah Islam.
Adapun konglomerat china kafir pemilik Lippo group pendiri 1000 sekolah kristen ini adalah James Riyadi, yang juga pemilik koran Suara Pembaharuan, masih tetap terus berusaha menunjukkan dirinya tetap eksis dengan ide Awie (Jokowi) sebagai Presiden 2014.
Dan, donatur utama mereka, Gerombolan Cina Kristen Hoakiau ini sangat berbahaya. Setelah mereka menguasai 70% perekonomian nasional dan sejumlah TV Swasta terkemuka, kini giliran mereka ingin menguasai negara melalui PINTU BEBERAPA PARTAI POLITIK.
Tak heran jika TV terkemuka milik China Kafir ini habis-habisan mencitrakan Jokowi agar Jokowi yang 100% China ini menjadi RI-1. Jika hal ini sampai terjadi, maka tidak menutup kemungkinan di masa depan Presiden NKRI berasal dari keturunan China Kristen dan NKRI menjelma menjadi SINGAPURA KE DUA, dimana meski mayoritas Indonesia adalah 88% Muslim tapi pemerintahan dan kebijaksanaanya dikuasai oleh K A F I R.
Maka dari itulah para konglomerat China Kafir Hoakiau ini sangat benci sekali pada KPK, karena dengan adanya KPK maka langkah mereka sedikit terhambat, tidak bisa “”MELOBY”" dan “”MELICINKAN”" gerak mereka menyuap pemerintah untuk keuntungan dan bahkan merampok uang rakyat.
Kita ambil contoh saja banyak sekali china kafir Hoakiau ini merampok dana BLBI yang totalnya mencapai 560 Trilyun !!! Sehingga utang pokok dan bunga 80 Trilyun ini DIBAYAR OLEH RAKYAT, MEMAKAI UANG RAKYAT MELALUI APBN sampai 2032 Dan sebagian kecil yang sangat kecil dari rampokan itu digunakan untuk mengatur & mengendalikan NKRI
Contoh: US$.25 Juta digelontorkan untuk bantuan tahap awal kepada Calon Pemimpin Keturunan China yaitu Jokowi-Ahok dalam PilGub DKI
Dan setelah itu bantuan tahap ke dua sebesar US$.20 Juta untuk menjaga popularitas Jokowi-Ahok dengan bekerja sama dengan Media Massa yang notabene adalah mayoritas milik China Kafir juga
Mengapa para Konglomerat Hitam Hoakiau ini masih peduli & ikut campur siapa yang menjadi penguasa RI? 1. Karena Mereka ingin kembali kemari untuk merampok lagi 2. Indonesia merupakan surga bagi para perampok berkedok bisnisman & konglomerat hitam 3. Kekayaan alam, pasar yang luar biasa besar, 270Juta Penduduk 4. Lemahnya penegakan hukum, pejabat yang mayoritas dapat disuap adalah merupakan kombinasi yang indah untuk “MERAMPOK UANG RAKYAT”
Salah satu bukti kebencian 25 Buron BLBI Hoakiau Kafir kepada KPK adalah KPK mulai mengambil alih kasus BLBI yang sudah “DIHENTIKAN” selama 10 tahun lebih ini. Dan KPK memulai dengan memanggil Kwik Kian Gie
Jika diperhatikan, banyak sekali sekarang caleg berbagai partai berlandaskan demokrasi yang mengusung China Kristen Kafir menjadi caleg mereka, JIKA ANDA MENCOBLOS MEREKA, MAKA INI AKAN BERALAMAT MASALAH TIADA AKHIR.
Stanley Bernard Greenberg (Yahudi AS), konsultan Politik, Pllster, ahli strategi pemenangan Pemilu – PilPres berada dibelakang suksesnya rekayasa
Admin islamterbuktibenar.net heran, dahulu kita semua tahu bagaimana kebijaksanaan Presiden Soekarno terhadap para China kafir ini, namun mengapa semua itu justru dilanggar oleh putrinya sendiri? Malah Kwik Kian Gie dijadikan Mentri Perekonomian? Lalu Zhang Wan Xie, atau Basuki Indra atau Basuki Tjahja Purnama atau AHOK yang mantan mafia dan koruptor di BelTim pun diusung oleh salah satu Putri Bung Karno menjadi Pejabat di Ibukota NKRI???
Bahkan investor dari China pun ditinggal oleh AHOK saat rapat dan rapat berlanjut seolah-olah investor dari China memimpin rapat dan memerintah ini dan itu kepada pemerintah anggota rapat lain
Sekedar tambahan, Jokowi ini disamping pernah melakukan ritual syirik saat memandikan mobil Esemka agar menyajikan sesajian sebagai tumbal agar dapat menolak bala dan mendatangkan rejeki serta kemudahan, ternyata Jokowi selama menjabat sebagai Gubernur pun tidak pernah mengujungi Majelis Taklim, menemui ulama, apalagi mendengar masukan dari ulama. Jokowi tidak pernah berkomitmen terhadap Islam dan tidak pernah berhubungan dengan komunitas Islam. Bahkan Jokowi tidak pernah membangun Masjid meski sebelumnya sudah berjanji akan mendirikan masjid, yang ada malah AHOK merubuhkan Masjid tanpa permisi pada rakyat sekitar, apalagi ulama.
Maraknya pencitraan media massa ini persis saat SBY hendak jadi Presiden, Mentri Pertahanan Amerika mengunjungi SBY tapi tidak mengunjungi Mega yang saat itu masih jadi presiden???
Dan usai itupun segenap media massa seolah digerakkan untuk mengangkat SBY hingga SBY menjadi presiden, tapi apa hasilnya setelah SBY menjadi presiden???
Yang terjadi nyata adalah: Nazaruddin, Angelica Sondakh, Anas Urbaningrum, Ibas, Boediyono, Sri Mulyani, dll.
Perlu diketahui bahwa untuk iklan kurang dari 1 menit, harga yang perlu dibayar adalah sekitar lima juta rupiah. Lalu berapa kali iklan ditayangkan dalam 1 hari? dan berapa hari iklan itu keluar terus menerus?
Apalagi ini tidak hanya muncul dalam iklan, tapi berita utama, seluruh media TV, koran, Radio, bahkan dalam acara khusus yang durasinya lebih dari 1 jam. Berapa dana yang dikeluarkan?
Posting / status ini berbau SARA? lalu bagaimana dengan semua orang kristen yang memilih Jokowi-Ahok dalam PilGub? Apakah itu tidak SARA?
Jika Islam Mayoritas, Kristen Minoritas, Maka Umat Kafir akan hidup dalam damai,,, bahkan saking terlalu “damai”-nya, MINIMAL sudah 25juta muslim MURTAD menjadi kafir dalam kurun 1950-2004. Namun jika Kristen Mayoritas, Islam Minoritas, Maka DAPAT KAMI PASTIKAN, BAHWA KRISTEN YANG BERAGAMA “KASIH” ITU PASTI MENGHABISI UMAT ISLAM! Dijamin 100%. Apalagi para Pejabat, Kepala Daerah, Anggota Legislatif dan MK dari golongan KAFIR.
Contoh kekuatan media massa yang lain adalah:
Saat peristiwa WTC 9-11, seluruh media mengatakan bahwa Islam adalah pelakunya, tapi ternyata??? Amerika sendiri pelaku peledakan gedung tersebut.
Sekarang? Segenap media massa milik kafir dengan gegap gempita menyiarkan dan meliput bahwa Jokowi yang 100% China dan Ahok (no comment) adalah “Setengah dewa”, layak untuk menjadi Presiden???
Well,,, silahkan anda menilai sendiri menggunakan hati,,,
DAN,,, TETAPLAH KRITIS DAN WASPADA + JELI,,,
Ditanya masalah Papua.. Gak paham
Ditanya masalah Century.. gak paham
Ditanya masalaj bus TJ.. Bukan Urusan saya lagi..
Kayaknya Tipe orang cuek. gak mau tahu serta gampang lepas tangan.. Satu lagi tidak pernah mikir dalam berucap JANJI.. ...
Sejarah buruk bakal menanti negeri ini.. klo karakter tsb Jadi presiden
Siapa Sesungguhnya Handoko Joko Widodo (Jokowi) ?
by Ronin Samurai
Kutipan dari Pilkadaleask.blogspot.com
Pasangan underdog ini tiba-tiba melejit begitu pesat diluar prediksi sejumlah pengamat/lembaga survei. Sederet slogan/jargon dalam sekejap mampu membius warga Jakarta. Melalui icon ‘Perubahan’, Kartu Sehat dan Pintar plus menebar kartu nama seketika dapat menghipnotis pemilih. Di tengah euphoria hasil quick-count lembaga survei, pasangan Jokowi-Ahok serasa di atas angin. Baik Jokowi maupun Ahok membungkus citra personalnya sedemikian rupa agar bisa meyakinkan pemilih berlatar etnik/suku tertentu di Jakarta.
Siapa sesungguhnya H. Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama/BTP? Rumors yang menyebutkan nama depan Joko Widodo adalah Handoko sepertinya benar. Dan bukan seperti yang diwartakan atau disebut-sebut oleh timses atau para pendukungnya. Awalnya, saya tidak begitu percaya kepada isu gelap itu. Setelah dikonfirmasi memang begitu adanya. Informasi itu saya dapatkan dari orang dalam Keraton Kasunanan Surakarta Solo yang tidak ingin disebut namanya. Maklum saja, saat ini konflik di internal Keraton Kasunanan Surakarta tengah mencuat kembali.
“Nama aslinya itu Handoko Joko Widodo mas,” jawabnya saat saya ingin konfirmasi kebenaran isu tersebut. “Setahu saya, beliau itu mualaf,” ujarnya lagi. “Saya kurang tahu persis, apakah beliau sudah pergi haji atau belum. Saya juga kurang tahu apakah mualaf itu karena politik atau tidak,” sergahnya ketika saya tanya apakah benar hijrahnya Jokowi memeluk Islam disebabkan karena faktor politik atau tidak. Informasi ini saya gali ketika tengah berlibur ke Solo. Sebagian profil H. Joko Widodo mungkin sudah dapat dibaca di media-media mainstream. Hanya saja, saya ingin melihatnya dari perspektif yang berbeda. Sederhananya, bila inisial H merupakan Haji, dapatkah Jokowi membeberkan kepada konstituennya/pendukungnya/simpatisannya kapan beliau berangkat ke Mekkah?
Walikota Solo yang konon dilabeli ‘Obama van Java’ itu sangat lihai, lincah dan gesit mengubah persepsi masyarakat muslim Jakarta. Menyusup ke sejumlah tokoh dan kelompok-kelompok agamawan di Jakarta. Jokowi begitu piawai menyembunyikan identitasnya agar memunculkan kesan sebagai seorang muslim sejati. Sisi lain, mayoritas muslim di Jakarta memang tidak banyak yang mengetahui sepenuhnya rekam-jejak spiritual seorang Jokowi. Sebagaimana diketahui akar ke-Islaman yang tumbuh dan berkembang di Solo mayoritas berhaluan kepercayaan atau Islam garis keras (fundamentalis). Adapun kelompok-kelompok Islam yang berlatar moderat sangat langka pertumbuhannya. Percaya atau tidak, penggalan cerita itu dapat membuka persepsi kita tentang Jokowi.
Kita tidak menyoal perihal Jokowi memeluk Islam serta apapun haluan yang berkembang dalam Islam. Yang kita sesalkan adalah ketidakjujuran Jokowi. Saking cemasnya, Jokowi, atau timsesnya menuding sekelompok orang yang melayangkan isu mualaf, atau suara segelintir orang yang meragukan ke-Islaman Jokowi dianggap fitnah. Konon, penyembunyian identitas ini sengaja dilakukan agar Jokowi bisa leluasa menggandeng kelompok-kelompok Islam di Jakarta untuk kepentingan politik dirinya. Aktor utama yang membungkus rapih profile Jokowi adalah Kemenpera RI Djan Faridz. Sebagaimana diketahui, Djan Faridz berperan untuk menghimpun sekaligus memobilisasi kelompok-kelompok Islam di Jakarta guna memenangkan Jokowi-Ahok dalam pentas Pemilukada DKI Jakarta. Motif Djan Faridz sendiri dilatari oleh kepentingan bisnis agar bisa menguasai seluruh sektor bisnis di Jakarta, terutama sektor properti.
Rekam jejak Jokowi sebagai walikota Solo (Surakarta) bila disebut berhasil sangat relatif. Mengingat popularitas Jokowi di media berbanding terbalik dengan sejumlah fakta di lapangan. Di balik sanjungan dan pujian atas keberhasilannya, Walikota Solo Jokowi memiliki setumpuk pekerjaan rumah yang tidak (belum) terselesaikan. Apa sajakah itu? Mari kita bahas satu-persatu
1) Kemacetan
Dengan jumlah penduduk yang hanya sekitar 559.318 ribu jiwa (BPS 2011), beberapa ruas jalan di kota Solo masih terjadi kemacetan. Celakanya, kepadatan arus lalu lintas menjadikan Jalan Slamet Riyadi Solo dikabarkan bakal naik level dari C (lancar) menjadi D (macet). Hal tersebut menyusul menurunnya kinerja atau level of service (LOS) akibat sering terjadinya kemacetan di salah satu jalan protokol di Kota Bengawan itu. Menurut Kepala Bidang (Kabid) Lalu Lintas Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kota Solo, Sri Baskoro, level Jl Slamet Riyadi saat ini masuk pada level C, yaitu padat merayap. Menyusul adanya rencana pembangunan dua hotel di jalan tersebut, kini tengah dilakukan kajian terhadap level/status jalan itu. Ke depan, levelnya akan naik menjadi D, yaitu macet. Baskoro menjelaskan kondisi Jl Slamet Riyadi saat ini sudah cukup padat. “Kalau kenaikan jumlah kendaraan baik roda dua maupun roda empat yang dulunya 7,5 persen, saat ini sudah melebihi angka itu,” kata Baskoro. Ia berharap agar ada terobosan-terobosan yang dilakukan pemerintah pusat untuk mengurangi angka kemacetan, termasuk di Kota Solo.
Di kota kecil Solo saja Jokowi belum berhasil mengurai kemacetan, apalagi di Jakarta. Dengan jumah penduduk Jakarta yang mencapai 9.607.787 jiwa dan status khusus, serta kewenangan yang terbatas kita meragukan Jokowi bisa meretas kemacetan dalam waktu singkat.
2) Tata Kelola Pasar di Solo
Di media mainstream Jokowi disebut-sebut sebagai walikota terbaik, terutama dalam melokalisasi dan mengelola pasar tradisional. Benarkah demikian? Dibalik kesuksesan tersebut, program relokasi Jokowi terhadap PKL berbanding terbalik dengan program revitalisasi pasar tradisional.
Beberapa pedagang di Pasar Panggungrejo, Jebres nasibnya kian terpuruk akibat omset mereka yang terus merosot. Sebelum direlokasi rata-rata para pedagang mampu mendapat masukan sekitar Rp400.000 per hari. Kini, mereka mengaku hanya mendapat sekitar Rp50.000 hingga Rp100.000. Kondisi Pasar Panggungerjo, Jebres, Solo semakin memprihatinkan. Sejak penyegelan terhadap 24 kios yang tidak ditempati oleh pedagang bulan Mei silam, kini belum ada perkembangan yang berarti. Dari 201 kios yang ada di pasar tersebut, hanya sekitar 40 kios yang secara rutin ditempati pedagang.
Pemkot Solo telah berjanji untuk memindahkan Pedagang Kaki Lima (PKL) yang sekarang masih berjualan di sepanjang Jalan KH Dewantoro untuk dimasukkan ke Pasar Panggungrejo. “Namun sekarang kenyataannya PKL di sana masih banyak. Salah satu faktor itulah yang membuat pasar ini sampai sekarang sepi pengunjung,” ujar Sukinah, salah satu pedagang di sana. Masalah lainnya, saat ini masih banyak pedagang yang belum mau membuka kiosnya secara rutin. “Padahal walikota sudah meminta, kios yang tutup segera dialihkan ke pedagang yang lain. Tapi sampai sekarang juga belum ada tindakan lebih lanjut,” tukas Sukinah.
Sukinah yang berdagang di lantai 3 meminta kepada Pemkot Solo untuk segera mengambil langkah yang konkret untuk mengatasi masalah tersebut. “Yang terpenting pedagang bisa laku seperti dulu lagi,” katanya. Selain Pasar Panggungrejo, Walikota Jokowi juga masih dihadapi persoalan revitalisasi Pasar Klewer. Hal ini menjadi perhatian kalangan DPRD Kota Solo. Menurut sejumlah anggota dewan, pro-kontra di antara pedagang Pasar Klewer, sebaiknya Pemkot Solo menyelesaikan lebih dulu. Wakil Ketua DPRD Kota Solo, Supriyanto meminta Pemkot masalah lebih dulu terkait rencana revitalisasi Pasar Klewer secara internal dengan kalangan pedagang pasar itu. Sebelum melaksanakan berbagai tahapan ataupun persiapan. Mengingat, rencana tersebut juga belum jelas dan detil hingga detik ini.
Sebelumnya, jajaran pengurus HPPK juga telah menyampaikan aspirasi mereka terkait rencana revitalisasi Pasar Klewer, kepada Fraksi Partai Amanat Nasional (FPAN) DPRD. Ketua FPAN DPRD Kota Solo, Umar Hasyim menyatakan pihaknya segera menyampaikan aspirasi dan keluhan kalangan pedagang Pasar Klewer tersebut kepada Pemkot Solo agar bisa diperhatikan dan segera ditindaklanjuti.
3) Kemiskinan di Solo
Sebagai Walikota Solo, Jokowi juga tidak prestius dalam menekan jumlah penduduk miskin di Solo. Berdasarkan data Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) Solo, jumlah penduduk miskin di Solo setiap tahun mengalami kenaikan. Pada 2009 tercatat ada 107.00 jiwa, naik menjadi130 ribu jiwa pada 2011 atau meningkat sekitar empat persen. Berikut ini data kemiskinan di Solo
Data penduduk miskin Kota Solo versi TKPKD
1. Tahun 2009: 107.000 jiwa
2. Tahun 2010: 125.000 jiwa
3. Tahun 2011: sekitar 130.000 jiwa
Peningkatan penduduk miskin
1. Dari tahun 2009 ke tahun 2010: 18.000 jiwa atau 16,8%
2. Dari tahun 2010 ke tahun 2011: 5.000 jiwa atau 4%
Kelurahan berpenduduk miskin paling banyak tahun 2010
1. Sudiroprajan, Jebres
2. Sangkrah, Pasar Kliwon
3. Kepatihan Wetan, Jebres
4. Semanggi, Pasar Kliwon
5. Ketelan, Banjarsari
4) Banjir dan Sampah di Solo
Jokowi juga belum berhasil menanggulangi bencana alam banjir yang setiap tahun merendam Kota Solo. Pada awal 2012 banjir di kota ini meluas hingga merendam 1.470 keluarga dengan ketinggian air 1 hingga 1,5 meter. Warga Kota Solo pun mengeluhkan soal sampah yang bakal menjadi bom waktu, karena hingga kini di kota Solo hanya ada satu Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang usianya sudah mencapai dua tahun dan dikhawatirkan tak mampu menampung sampah warga yang terus menumpuk.
Saking tak bisa ditangani dengan baik, luapan air juga merendam rumah Wakil Walikota FX Hadi Rudyatmo di Kampung Badran, Kelurahan Pucangsawit, Solo. Yang lokasinya tak jauh dari kawasan Bengawan Solo. Akibat kebanjiran, kelaurga Rudy terpaksa mengungsi di kantor percetakan milik salah seorang anaknya. Kantor tersebut tak jauh dari rumahnya namun lokasinya lebih tinggi sehingga aman dari luapan banjir.
Luapan air dilaporkan telah merambah pula di kawasan-kawasan yang selama ini cukup aman dari banjir. Kawasan sekitar kampus UNS dilaporkan juga tergenang air. Ribuan warga telah meninggalkan rumahnya untuk mengungsi di berbagai tempat yang aman.
5) Praktik Good Governance Jokowi Gagal
Praktik good governance (tata kelola pemerintahan yang bersih) di Kota Solo yang masih dijabat Jokowi jauh dari aspek keberhasilan. Data dari KP2KKN Propinsi Jateng, pada 2010 Kota Solo menempati urutan ke-empat di Jawa Tengah. Kemampuannya memainkan isu melalui media massa, menutupi beberapa kekurangannya selama menjadi Walikota Solo. Mantan Ketua Komisi E DPRD Kota Surakarta, Heru S Notonegoro membeberkan, dari sisi manajemen kepemimpinan dan penataan kota, sebetulnya masih banyak yang perlu dibenahi, dan Jokowi masih jauh bila disebut berhasil. Dia mencontohkan kasus pemadaman listrik jalanan Kota Solo selama beberapa malam pada akhir 2011 lalu. Ini terjadi karena Pemkot Solo menunggak pembayaran pajak penerangan jalan umum sebesar Rp9 miliar adalah contoh ketidakberesan menajemen Pemkot Solo. “Padahal rakyat sudah membayarnya lunas,” ujar Heru seperti dilansir dari detik.com, Kamis (5/4/2012).
Selain itu sistem manajemen informasi dan akses publik terhadap data dan informasi yang ada di Pemkot Surakarta masih sulit diakses, padahal UU KIP (keterbukaan informasi publik) telah menjamin hak-hak rakyat atas informasi. Persoalan lain, lanjut Heru kepada detik, adalah banyak perda yang belum bisa dilaksanakan dengan baik. “Perda Parkir, Perda tentang pajak dan restoran, juga Perda tentang iklan maupun hiburan, hampir semuanya belum berjalan maksimal. Begitu pula proyek citywalk dan Galabo adalah proyek miliaran rupiah yang gagal,” papar Heru.
Sebelumnya, kalangan DPRD juga menyoroti sejumlah ide, program serta proyek Jokowi yang belum terselesaikan atau bahkan tidak terealisasi. F-PKS DPRD Kota Surakarta mempertanyakan kelanjutan berbagai ide serta program Jokowi, di antaranya citywalk, bus tingkat Werkudara, kereta uap Jaladara hingga railbus Batara Kresna. F-PKS DPRD Kota Surakarta melihat ada indikasi proyek-proyek tersebut belum dipersiapkan secara matang dan dimaksudkan untuk jangka panjang tidak hanya sekadar mode. Sedangkan F-PD mempersoalkan laporan keterangan pertanggungjawaban (LKPJ) Walikota tahun 2011. Yakni, berdasarkan LKPJ 2011 dikatakan bahwa ruang terbuka hijau (RTH) di Kota Solo tahun 2011 mencapai 18 persen. Namun faktanya, banyak RTH yang kondisinya terbengkalai atau tidak terawat.
6) Jokowi Gagal Sebagai Tokoh Pengayom?
Pendekatan humanis yang dilakukan Jokowi kepada warganya, ternyata belum terlalu jitu untuk menghindari terjadi gesekan di Kota Solo. Awal Mei 2012 lalu contohnya. Dua kelompok massa terlibat bentrok di Jalan RE Martadinata Gandekan, Kecamatan Jebres, Kota Solo, Jawa Tengah yang menyebabkan dua korban luka terkena sabetan pedang. Menurut pantauan di Jalan RE Martadinata Gandekan Solo, ribuan kelompok ormas mendatangi daerah Kampung Sewu dan Gandekan dengan berjalan kaki. Mereka membawa senjata tajam, batang besi, ketapel dan tongkat pemukul, melintas di Jalan Tanggul dan memutar melalui RE Martadinata, seperti yang dilansir Antara News.
Sejumlah orang dari kelompok ormas, sebagian bersenjata tajam, masuk di gang Bangunharjo RT 1 RW 9, Gandekan dan langsung membacok korban, Ngadiman (60)-seorang tukang bengkel sepeda yang sedang duduk-duduk. Ngadiman terkena sabetan dari kelompok Ormas itu, terluka di kepala dan tangannya. Korban lainya, Haris, warga sekitar, tiga jarinya putus diduga terkena sabetan pedang dari kelompok Ormas. Kedatangan kelompok Ormas tersebut membuat Kampung Sewu dan Gandekan cukup mencekam terutama di Jalan RE Martadinata. Toko-toko di sepanjang jalan itu tutup, karena khawatir akan terjadi bentrok antara kedua kelompok tersebut. Dari enam aspek tersebut, kita dapat menilai rekam jejaknya dan siapa sesungguhnya Jokowi.
setelah jadi walikota solo yg berdampingan dengan wakil kristen Rudi, Kemudian Jokowi Memilih Pula wakil Kristen saat menjadi Gub. DKI.? dan mengapa kristen Ahok yang dipilih? ... Karena Basuki Tjahja Purnama adalah representasi gerakan politik Cina-Kristen yang ingin menguasai politik Indonesia. Tak hanya Pemilukada dan Pemilu Legislatif, Pilpres pun hendak mereka menangi.
"Ketika mereka memiliki kewenangan dan kekuasaan, mereka akan melakukan apapun demi kepentingan pribadi. Masa bodoh dengan urusan partai, masyarakat apalagi negara.’’
Demikian yang dikhawatirkan wartawan senior Derek Manangka terhadap Cawagub DKI Basuki Tjahja Purnama alias Ahok. Dalam tulisannya jelang Pilkada DKI Jakarta putaran kedua September 2012 -- yang akhirnya dimenangi Jokowi-Ahok, Derek mencemaskan Ahok juga memiliki budaya yang sama dengan para pengusaha hitam keturunan China seperti Hartati Murdaya.
Setelah menjadi juragan besar dengan bendera korporat Berca Group, pasangan pengusaha Murdaya dan Hartati Poo masuk politik. Pada Pemilu 2004, Poo merapat ke Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), sedang istrinya ke Partai Demokrat (PD).
Belakangan, Murdaya Poo ditendang dari kedudukannya sebagai bendahara PDIP. Poo dinilai lebih asyik mendampingi Hartati yang pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PD.
Hartarti pun akhirnya digajul dari DPP PD, setelah ditangkap Komisi Pembrantasan Korupsi (KPK) dan dijadikan tersangka. Pengusaha wanita itu menyogok Bupati Buol, Sulawesi Tengah, Arman Batalipu, yang merupakan kader Partai Golkar. Rasuah diberikan agar perusahaan Hartati mendapat konsesi perkebunan.
Kelakuan Hartati memperpanjang daftar pengusaha hitam etnis Cina yang menggonjang-ganjing jagat Indonesia. Dalam skandal suap impor komoditas pertanian, tersebut pula sejumlah pengusaha Cina seperti Basuki, Sengman Tjahja, Elizabeth Liman, dan Yudi Setiawan.
Masih lekat dalam ingatan, pada awal 1990-an, Eddi Tanzil membobol Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) sebesar Rp 1,5 triliun ketika nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika sekitar Rp 1.500 per dollar. Kini, ketika nilai tukar rupiah mengalami depresiasi sekitar 700%, berarti duit yang digondol Eddi Tanzil setara dengan Rp 9 triliun, lebih besar dari nilai skandal Bank Century yang Rp 6,7 triliun.
Di penghujung tumbangnya Orde Baru, sejumlah pengusaha dan bankir Cina panen BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia). Banyak di antara mereka yang kemudian melarikan diri ke luar negeri dengan meninggalkan asset rongsokan sebagai jaminan dana talangan tadi.
Menurut catatan Kompas (2 Januari 2003), jumlah utang dan dana BLBI yang diterima Sudono Salim alias Liem Sioe Liong sekitar Rp 79 trilyun, Sjamsul Nursalim alias Liem Tek Siong Rp 65,4 trilyun, Sudwikatmono Rp 3,5 trilyun, Bob Hasan alias The Kian Seng Rp 17,5 trilyun, Usman Admadjaja Rp 35,6 trilyun, Modern Group Rp 4,8 trilyun dan Ongko Rp 20,2 trilyun. Total jendral, duit rakyat yang dikemplang 7 konglomerat hitam (meminjam istilah Kwik Kian Gie) ini sekitar Rp 225 trilyun.
Pasca rezim Orde Baru, muncul lagi pengusaha China yang membawa kabur uang dalam jumlah yang luar biasa besarnya. Misalnya Hendra Rahardja alias Tan Tjoe Hing, bekas pemilik Bank Harapan Santosa, yang kabur ke Australia setelah menggondol duit dari Bank Indonesia lebih dari Rp 1 triliun.
Kemudian ada Sanyoto Tanuwidjaya pemilik PT Great River, produsen pakaian bermerek papan atas. Sanyoto meninggalkan Indonesia setelah menerima penambahan kredit dari bank pemerintah.
Lalu Djoko Chandra alias Tjan Kok Hui, yang terlibat dalam skandal cessie Bank Bali, meraup tidak kurang dari Rp 450 miliar. Ketika hendak ditahan Djoko kabur ke luar negeri dan kini dikabarkan menjadi warga negara Papua Nugini.
Pada 2010, mantan kepala ekonom konsultan McKinsey, James Henry, menerbitkan hasil studinya soal penyelewengan pajak di luar negeri (tax havens). Menurut laporan tersebut, terdapat USD 21 triliun (Rp 198.113 triliun) pajak pengusaha di seluruh dunia yang seharusnya masuk kantong pemerintah, namun diselewengkan. Sembilan di antara para pengusaha pengemplang pajak itu berasal dari Indonesia,seperti James Riady, Eka Tjipta Widjaja, Keluarga Salim, Sukanto Tanoto, dan Prajogo Pangestu.
Menyadari bahaya Overseas China khususnya di bidang ekonomi, pemerintah sempat membatasi ruang gerak warga cina. Misalnya dengan Peraturan Pemerintah RI No. 10/1959 yang melarang orang-orang non-pribumi Cina khususnya WNA bertempat tinggal dan berusaha di desa-desa atau di daerah pedalaman. Imlek pun dilarang dirayakan di muka umum. Larangan itu tertuang dalam Inpres No 14/1967.
Namun eforia Reformasi kembali memberikan kebebasan seluas-luasnya bagi warga Cina. Instruksi Presiden BJ Habibie No.6/1998 yang menghapus istilah ‘’pri’’ dan ‘’non-pri’’ dalam kebijakan resmi pemerintahan dan bisnis.
Lalu Keputusan Presiden Abdurrahman Wahid No. 6 tahun 2000 yang menghapus pembatasan praktek-praktek budaya dan tradisi Cina pada tempat pribadi. Presiden Gus Dur juga mengakui Kong Huchu sebagai salah satu agama resmi yang diakui negara.
Selanjutnya UU Kewarganegaraan No. 12/2006, memberikan ruang sosial dan politik untuk mengekspresikan identitas budaya Cina.
Entitas Cina pun mulai berani mengorganisasi diri. Berdirilah misalnya Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) pada 28 Agustus 1998 dan dipimpin oleh seorang mantan Brigadir Jendral (Pur) Tedy Yusuf (Xiong Deyi).
Lalu ada INTI (Perhimpunan Indonesia Keturunan Tionghoa) yang dibentuk 10 April 1999 dengan pemimpin Eddy Lembong (Wang Youshan).
Gerakan politik warga Cina mulai melembaga dengan berdirinya partai politik yang digagas mereka. Lieus Sungkharisma (Li Xuexiong), aktifis Budha yang juga bendahara KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia), pada 5 Juni 1998 bersama empat orang pemuda Tionghoa Indonesia lainnya (Ponijan Liaw, Cecep Adhisaputra, Alexander Ferry Widjaya, dan Julianus Juta) mendirikan Parti (Partai Reformasi Tionghoa).
Pengusaha kayu besar dan anggota Bakom-PKB Jusuf Hamka (A Bun), mendirikan Parpindo (Partai Pembauran Indonesia). Sedang Tan Swie Ling, seorang penulis/wartawan Kristen, mendirikan Partai Warga Bangsa Indonesia. Pemilik travel agent Jakarta dan ketua Asosiasi Hakka, Nurdin Purnomo (Wu Nengbin), memimpin PBI (Partai Bhinneka Tunggal Ika Indonesia).
Dalam Pemilu, Partai Bhinneka Tunggal Ika bisa menempatkan wakilnya di DPR, yakni L Sutanto dari Kalimantan Barat (Kalbar). Menurut data Litbang Kompas, 15 dari total 560 anggota DPR periode 2009-2014 adalah keturunan China.
Sejumlah kepala daerah keturunan China, seperti Wakil Gubernur Kalbar Christiandy Sanjaya dan Wali Kota Singkawang Hasan Karman.
Sebelum bertualang ke Pilkada DKI Jakarta, Ahok memenangi pemilihan daerah pada 3 Agustus 2005 yang mengantarkannya jadi Bupati Belitung Timur. Kabupaten ini merupakan pemekaran dari Kabupaten Tanjung Pandan, dengan populasi hanya 90.000 orang. Sebesar 4.7 % dari populasinya adalah keturunan Cina. Pasangan Ahok-Khairul memenangkan pemilihan di Belitung Timur dengan perolehan suara 17.578 atau 37,13 % dari total 47.340 suara sah (Tempo Interaktif, 19/8/2005).
Pada 22 Desember 2007, Ahok mengundurkan diri dari jabatannya untuk bertarung di pemilihan Gubernur Bangka Belitung. Dia dan pasangannya, Eko Cahyono, hanya menduduki peringkat kedua dengan memperoleh 32,63 % atau 14.000 suara.
Ahok lalu menjadi Sekretaris Jendral Partai PIB, sebelum kemudian membentuk LSM Centre for Democracy and Transparency.
Ditenteng rekan seimannya, pengusaha Hashim Djojohadikusumo, Ahok didampingkan dengan Joko Widodo di Pilkada DKI Jakarta. Menurut hasil exit poll versi Lembaga Survei Indonesia (LSI), pada Pilkada Jakarta 11 Juli 2012 seratus persen warga Tionghoa Jakarta memilih pasangan Jokowi-Ahok. Hasil survei ini diambil dari 410 Tempat Pemungutan Suara.
Berdasarkan data Sensus Penduduk tahun 2000, jumlah penduduk Tionghoa di Jakarta mencapai 460 ribu atau 5,5 persen dari total 8,3 juta total penduduk ibukota.
Menurut peneliti Lembaga Survei Indonesia (LSI) Burhanudin Muhtadi, fenomena tersebut mengindikasikan semangat perubahan warga Tionghoa melalui figur Ahok.
Senafas dengan spirit politik Cina adalah politik Kristen. Politik Kristen menjadi faktor penting dan bahkan penentu kemenangan suatu calon dalam pemilu (Levis, 2005, Sandra Yocum Mize, 1999, Mills, 1997).
Sesuai aspirasi konstituennya yang tidak ingin Islam campur tangan di pemerintahan, Ahok terang-terangan menata Jakarta dengan sekulerisme. Kepada pers, pada awal Juli 2012 Pasangan Cagub-Cawabup DKI Joko Widodo-Basuki Purnama menyatakan akan lebih mendahulukan kitab konstitusi dibanding kitab suci dalam kehidupan bernegara.
Semangat Ahok kian kentara dengan menginjinkan untuk kali pertama kebaktian di kantor Pemda DKI Jakarta. Ia juga membela penempatan Lurah Susan Jasmine yang Kristen di Lenteng Agung yang merupakan basis muslim. Sebuah masjid di Jakarta pun dibiarkan digusur pada rejim Jokowi-Ahok.
Menurut analisis Pengamat Politik dan Dosen Ilmu Politik FISIP Universitas Sumatera Utara, Warjio, kebangkitan politik Kristen juga terlihat nyata dalam Pemilukada Sumut 2013 yang dipresentasikan pasangan Effendi Simbolon- Jumiran Abdi (ESJA) dan nama-nama calon dari Batak Kristen lainnya. Bahkan Ahok pun sempat disebut di internal Partai Damai Sejahtera (PDS) untuk dimajukan.
ESJA, terutama Effendi Simbolon, begitu rajin selama sebelum dan semasa kampanye mendatangi pimpinan gereja-gereja yang ada di Sumut. Walaupun kalah merakyat dibanding RE Nainggolan yang juga beragama Kristen, Effendi Simbolon lebih didukung karena menempati posisi yang lebih baik (Cagub) jika dibanding RE Nainggolan (Cawagub).
Warjio menyatakan, dalam kaitan dengan kesempatan, tentu dalam pandangan politik Kristen, akan lebih mudah membangun “Kerajaan Tuhan” jika dilakukan oleh gubernur ketimbang wakil gubernur.
‘’Pemilukada Sumut 2013, dalam pandangan Politik Kristen adalah satu kesempatan yang harus diraih. Inilah alasan yang menurut saya kemudian suara pemilih Kristen sangat bulat dalam mendukung Effendi Simbolon. Popularitas RE Nainggolan yang diterima luas terpaksa harus dinomorduakan demi kepentingan lebih besar,’’ papar Warjio.
Semangat politik Kristen untuk merebut RI-1 tecermin misalnya dalam Sidang Sinode yang dihadiri 700 pendeta dari seluruh Indonesia pada awal Maret 2013. Saat itu, Ketua Dewan Masjid Indonesia Jusuf Kalla yang diundang sebagai narasumber, ditanya Pendeta Stefanus Marinjo, “Apakah Bapak Jusuf Kalla secara pribadi mau dipimpin oleh presiden yang non-Islam?”
Pertanyaan tersebut bukan basa-basi. Pada 2 Juli 2012, Hary Tanoesoedibjo (HT) cabut dari Partai Nasional Demokrat untuk menjadi calon wakil presiden Prtai Hanura, Wiranto.Deklarasi HT-Win digelar gegap gempita di Hotel Grand Mercure Jakarta dan dihadiri lebih 1000 kader Hanura.
Dalam sistem demokrasi transaksional Indonesia, sumberdaya HT sangat menjanjikan. Pengusaha Cina ini pada 2011 menduduki peringkat ke-22 dalam daftar orang terkaya di Indonesia versi Forbes, dengan total kekayaan US$ 1,19 miliar.
Sebagai bos MNC Group, Hary Tanoesoedibjo mengendalikan 20 stasiun televisi, 22 stasiun radio, 7 media cetak dan 1 media online.
Tahun ini, HT terang-terangan melawan aspirasi utama umat Islam Indonesia, dengan memfasilitasi istrinya menyelenggarakan Miss World 2013 di Bali dengan biaya sekitar Rp 120 Milyar. Bahkan dia sesumbar akan menyelenggarakan kembali kontes ini di Indonesia.
Namun, pasangan Win-HT bakal kalah jika Jokowi maju ke bursa pemilihan Capres. Akan tetapi kalaupun toh kalah nantinya, politik Cina-Kristen akan menguasai Ibukota Jakarta lewat Ahok. Skenario ini mengulang skenario sebelumnya ketika Jokowi loncat ke Jakarta dan membuat Solo dipegang Walikota yang Kristen.
KH Muhammad Alkhaththath mengingatkan, secara normative Allah SWT mengharamkan orang kafir berkuasa atas kaum muslim. Dalam QS. An Nisa 141 Allah SWT berfirman: “Dan Allah sekali-kali tidak akan memberikan jalan bagi orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang mukmin”.
Dalam Tafsir Jalalain, kata “sabil” dalam ayat tersebut diartikan “sabil bil isti’shal” yang artinya jalan untuk mencabut hingga ke akar-akarnya. Para mufassirin menggunakan kata “isti’shal” untuk menjelaskan adzab suatu kaum yang artinya mereka diadzab hingga musnah, tidak tersisa seorang pun. Artinya, Allah tidak mengijinkan orang Islam memberikan jalan bagi orang kafir untuk menguasai kaum muslim yang dengannya kaum muslim bisa dihabiskan hingga ke akar-akarnya.
Selain itu, fakta sejarah mencatat bahwa di beberapa wilayah di dunia umat Islam dihabiskan hingga ke akar-akarnya. Contoh yang paling nyata, adalah umat Islam di Andalusia. Andalusia adalah wilayah yang meliputi Spanyol, Portugal, dan Perancis Selatan. Di wilayah tersebut umat Islam pernah berkuasa sejak penaklukan pada tahun 711M hingga tahun 1492M atau sekitar 8 abad. Ketika umat Islam Berjaya di situ penguasa membangun peradaban Islam tanpa menghabisi para pemeluk agama lain. Tatkala umat Islam lemah, khususnya setelah terpecah menjadi para raja yang berkuasa atas berbagai wilayah (muluk at thawaif), maka kekuasaan kaum Katolik bangkit dan menguasai kembali Andalusia. Saat itulah, umat Islam dihabisi dari bumi Andalusia. Siapa saja muslim, siapa saja membaca Al Quran, dan siapa saja berbahasa Arab, semua dibunuh. Umat Islam dicabut dari Spanyol hingga keakar-akarnya.
Contoh paling dekat adalah kota Manilla, Philipina. Kota Manila adalah kota Islam yang didirikan Sultan Sulaiman. Manilla berasal dari kata fii amaanillah yang artinya doa semoga di dalam jaminan keamanan Allah SWT. Namun setelah kaum Nasrani Spanyol menyerang dan membersihkan kaum muslim dari Manilla dan kota-kota di Philipina bagian utara, maka kota Manilla menjadi satu-satunya kota Katolik di Asia.
"Apakah Jakarta akan mengikuti jejak Manilla dan Indonesia mengikuti jejak Andalusia?’’ gugat Sekjen Forum Umat Islam.
Menyikapi perkembangan politik menjelang Pilpres 2014, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Kiai Kholil Ridwan, berpesan agar umat Islam harus kompak, lebih merapat, dan saling dukung. Kekuatan Islam harus berani melakukan gerakan ABJ (Asal Bukan Jokowi).
Jokowi tidak faham dan tidak mengerti adab dalam Islam. Jokowi melukai hati umat Islam. Di Solo meningga...lkan jabatan sebagai Walikota, kemudian sekarang Walikota Solo digantikan wakilnya yang Catholic. Di Jakarta, Jokowi juga meninggalkan jabatannya sebagai Gubernur, dan dengan demikian Ahok yang Kristen Protestant akan jadi Gubernur DKI.
Jokowi, seorang muslim yang tidak memiliki perasaan. Bayangkan Jakarta itu dibentuk dan direbut oleh Fatahillah dengan perang dan tetesan darah dari penjajah Portugis dan Barat. Tapi, sekarang dengan sangat mudah diambil oleh Cina Kristen. Kemenangan Fatahillah mengusir penjajah Barat Kristen, dan sekarang jatuh ke tangan Cina Kristen. Jakarta yang direbut dengan perang dan tetesan darah umat Islam, kemudian sekarang kota Islam Jakarta akan di-Kristenkan.
Maka, solusi agar umat Islam jangan salah dalam bersikap, perlu diadakan pengajian politik Islam. Jadi harus jelas. Politik Islam lawan dari politik kufur. Umat Islam harus hijrah dari politik Secularism dan Nationalism, kembali ke politik Islam. Kalau sikap hijrah ini diserukan terus-menerus, maka akan membangun kesadaran. Masalahnya, para da’i tidak menyerukan secara terus-menerus. Sedangkan orang-orang kafir memiliki 3M (Money, Media, Mass). Tetapi, sejatinya umat Islam punya 4M, yaitu Masjid, Ma’had (pesantren), Majelis Ta’lim, dan Masyarakat (umat). Keempatnya kalau didayagunakan secara optimal, kita umat Islam bisa bersaing dengan kekuatan orang-orang kafir.
Mengapa Jokowi jadi musuh bersama? Karena, kalangan Islam sudah tahu bahwa Jokowi hanyalah 'boneka' bagi kepentingan Barat, Zionist, dan kalangan Kristen, yang ingin menguasai negara dan bangsa Indonesia. Menjadikan Indonesia sebagai tanah jajahan, sembari mengeruk kekayaan alamnya yang melimpah, menjadikan rakyatnya, kaum pribumi sebagai budak mereka, dan dibiarkan sebagai bangsa yang paria (gembel). Maka, perlu dibangun gerakan umat yang serentak, yaitu 'ABJ' (Asal Bukan Jokowi). Karena dia boneka Asing (Barat) dan Aseng (Cina).
Jokowi mengaku tak paham kasus Century
Reporter : Fikri Faqih | Rabu, 26 Maret 2014 09:15
Merdeka.com - Bakal calon presiden dari PDI Perjuangan Joko Widodo ( Jokowi ) beberapa waktu lalu mengatakan, lebih baik mengadu gagasan daripada berdebat. Namun ketika ditanyai apakah dirinya sudah memiliki gagasan, Jokowi berkilah, akan menyampaikan usai pemilihan legislatif.
"Ya nanti setelah pileg-lah," ujarnya di Balaikota DKI Jakarta, Rabu (26/3).
Jokowi menambahkan, dirinya sudah memiliki visi dan misi, namun belum waktunya untuk menyampaikannya saat ini. Dia mengaku dirinya tidak mungkin menerima mandat dari Ketua Umum Megawati Soekarnoputri jika belum memiliki gagasan ke depan.
"Ya sudah siap, siap melaksanakan mandat ketua umum masak nggak siap. Tapi saya enggak mau ngomong sekarang, ngomongnya setelah pileg," katanya.
"Ya biar dia dan beliau-beliau dulu yang sampaikan," ungkapnya.
Tapi sayangnya, ketika Jokowi ditanyai mengenai masalah pendidikan, dia tidak memberikan jawaban. Bahkan ketika ditanyai apakah dirinya mengetahui kasus century, Jokowi menjawab tidak tahu.