Rabu, 02 April 2014

Track Record PDIP Jual Aset Negara Sulit Dihapus Meski Jokowi Capres
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Track record PDI Perjuangan di bawah komando Megawati Soe
Track Record PDIP Jual Aset Negara Sulit Dihapus Meski Jokowi Capres
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Track record PDI Perjuangan di bawah komando Megawati Soekarnoputri kala menjabat Presiden, banyak menjual aset negara mulai dari satelit, gas, sampai kapal tanker VLCC milik Pertamina.
Menurut pengamat politik dari Universitas Indonesia, Agung Suprio, meski Jokowi diusung menjadi calon Presiden (capres) dari PDI Perjuangan, namun track record PDIP di masa lalu sulit dihapus dan jus...tru bisa terulang lebih parah jika Jokowi masih bisa didikte partai.
Hal itu diungkapkannya mengingat sikap Jokowi selama ini yang sangat manut apapun yang dikatakan Megawati sebagai Ketua Umum PDIP.
"Noda tersebut akan datang kembali bahkan lebih pekat dan sulit dihapus jika memang Jokowi terlalu didikte partai yangg punya track buruk dalam penjualan aset negara," ujar Agung kepada Tribunnews.com, Senin (24/3/2014).
Dikatakannya, jika memang PDIP tak mau mengulang sejarah penjualan aset negara, maka Jokowi sebagai capres yang diusung partai berlambang banteng moncong putih tersebut seharusnya berani mengemukakan visi misi pengelolaan aset negara dan berani berkampanye untuk menempatkan Menteri dari kalangan profesional dan non partisan.
"Sayangnya kampanye Jokowi miskin program. Yang ditampilkan adalah sosoknya yang sederhana. Kampanye yang menguras perasaan tapi mengesampingkan akal sehat," tukasnya.
Sebelumnya, sindiran yang ditujukan kepada PDIP karena dinilai gemar menjual aset negara, diungkapkan Wakil Sekjen Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Fahri Hamzah lewat akun twitternya. Fahri menyinggung beberapa kebijakan Megawati kala menjadi Presiden, yang dinilai merugikan karena menjual aset Negara.
karnoputri kala menjabat Presiden, banyak menjual aset negara mulai dari satelit, gas, sampai kapal tanker VLCC milik Pertamina.
Menurut pengamat politik dari Universitas Indonesia, Agung Suprio, meski Jokowi diusung menjadi calon Presiden (capres) dari PDI Perjuangan, namun track record PDIP di masa lalu sulit dihapus dan jus...tru bisa terulang lebih parah jika Jokowi masih bisa didikte partai.
Hal itu diungkapkannya mengingat sikap Jokowi selama ini yang sangat manut apapun yang dikatakan Megawati sebagai Ketua Umum PDIP.
"Noda tersebut akan datang kembali bahkan lebih pekat dan sulit dihapus jika memang Jokowi terlalu didikte partai yangg punya track buruk dalam penjualan aset negara," ujar Agung kepada Tribunnews.com, Senin (24/3/2014).
Dikatakannya, jika memang PDIP tak mau mengulang sejarah penjualan aset negara, maka Jokowi sebagai capres yang diusung partai berlambang banteng moncong putih tersebut seharusnya berani mengemukakan visi misi pengelolaan aset negara dan berani berkampanye untuk menempatkan Menteri dari kalangan profesional dan non partisan.
"Sayangnya kampanye Jokowi miskin program. Yang ditampilkan adalah sosoknya yang sederhana. Kampanye yang menguras perasaan tapi mengesampingkan akal sehat," tukasnya.
Sebelumnya, sindiran yang ditujukan kepada PDIP karena dinilai gemar menjual aset negara, diungkapkan Wakil Sekjen Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Fahri Hamzah lewat akun twitternya. Fahri menyinggung beberapa kebijakan Megawati kala menjadi Presiden, yang dinilai merugikan karena menjual aset negara.

Selasa, 01 April 2014

 

Jokowi, PDIP, dan Suara Kristen dalam Pemilu

Apa kata pengamat tentang Jokodong



Oleh: Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi, Pengamat Politik Islam

“KALAU dia seorang Muslim yang jujur atau seorang... Kristen yang tulus, agama yang dipeluknya itulah yang akan mempengaruhi sikap hidupnya, di luar atau di dalam parlemen, di rumah atau di Sidang Kabinet, dalam hidup pribadi atau hidup bernegara. Dia akan berusaha melaksanakan segala tugasnya bernegara, menurut yang diridhai oleh Tuhan yang dia percayai. Dan dia akan menolong agamanya dengan kekuasaan yang diberikan negara kepadanya menurut kemungkinan-kemungkinan yang ada. Begitulah dia, kalau dia Islam. Begitulah dia, kalau dia Kristen.” [Buya Hamka]
KAMIS (27/3) Komisi Kerawan Konferensi Waligereja Indonesia (Kerawam KWI) menyelenggarakan Misa Perutusan untuk para calon legislatif (caleg) Jakarta dan sekitarnya. Misa diadakan di ruang pertemuan kantor KWI, jalan Cikini II, Jakarta.
Hadir dalam misa itu sekitar 70 orang. Terdiri dari pengurus Kerawam KWI, para caleg Jakarta dan sekitarnya, serta para pemerhati. Intensi misa dilakukan untuk mohon berkat bagi para caleg, agar bisa berjuang dengan semangat dan hati nurani yang baik.
Dalam pertemuan itu, Sekretaris Kerawan KWI Romo Prapta, menegaskan bahwa Gereja memiliki perhatian pada kehidupan politik, seperti terungkap dalam surat gembala para uskup yang dikeluarkan untuk menyambut pemilihan caleg pada 9 April mendatang.
Dalam sambutannya, Romo Prapta mengingatkan bahwa dalam surat gembala itu para uskup minta agar umat Katolik ikut memilih. Sedangkan Krisantono mengatakan bahwa para caleg bukan wakil Gereja atau paroki, tetapi mereka adalah wakil partai mereka masing-masing. Namun mereka adalah caleg yang beriman Katolik, yang dipanggil untuk menyampaikan dan menjadi saksi semangat Kristus dalam karya mereka, antara lain dengan memperjuangkan kebenaran, keadilan dan kejujuran dalam sepak terjang mereka sebagai wakil rakyat.
Himbauan untuk membawa “Misi Kristiani” dalam pemilu nanti juga disuarakan Persatuan Gereja-gereja Indonesia (PGI). Dalam sidang Majelis Pekerja Lengkap PGI 2014 di Merauke, Papua, mereka menganjurkan agar warga gereja ikut secara aktif berpartisipasi dalam Pemilu 2014 dan tidak “golput.” Salah satu alasan PGI agar warga Kristiani memilih adalah perintah Bible agar warga Kristen turut dalam pembangunan nasional. PGI menulis:
Dalam Sidang Raya PGI 1972 di Pematang Siantar, Sumatera Utara, berdasarkan Lukas 4:18-19, gereja-gereja menegaskan bahwa “Injil adalah ‘Kabar Baik’ yang diperuntukkan bagi setiap orang. Injil yang konkrit memasuki berbagai persoalan konkrit manusia. Gereja-gereja diajak dan didorong untuk melibatkan diri dalam pembangunan nasional, sebab di sanalah Kabar Baik didengar dan dirasakan, asal saja berbagai upaya itu dilakukan dengan memperhatikan keadilan, martabat manusia, kesejahteraan dan sebagainya. Manusia tidak boleh dikorbankan bagi pembangunan, melainkan pembangunan untuk manusia. Itu berarti bahwa gereja-gereja tidak boleh lagi mengurung dirinya dalam tembok-tembok gereja (ghetto). Gereja harus memasuki seluruh bidang kehidupan, termasuk bidang politik.”
Seruan yang termaktub dalam pesan pastoral ini kemudian dibacakan secara langsung Ketua Umum PGI Pendeta AA Yewangoe dan Kepala Biro Penelitian dan Informasi PGI Hendri Lokra dalam konferensi pers pada 12 Februari 2014 di Jakarta.
Melihat dua organisasi besar Kristen di Indonesia ini, kita bisa melihat bagaimana persiapan kelompok Kristen dalam menyambut Pemilu tahun 2014. Lantas ke manakah suara mereka akan disalurkan?

PDIP dan Afiliasi Kristen

Meski kedua lembaga Kristen itu tidak merekomendasikan partai tertentu bagi jemaatnya, namun umat Islam dapat belajar dari sejarah politik Kristen di era efromasi dan gerakan yang mereka lakukan dalam “berbenturan” dengan umat Islam.
Dalam kasus ini, maka Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menjadi mitra strategis utama bagi Kristen. Bahwa Kristen menerapkan strategi tebar jaring dengan “menanam” para kadernya di berbagai parpol, itu pasti. Namun afiliasi utama Kristen tetap berada di PDIP.
Tahun 2004, misalnya, umat Islam tentu masih ingat dengan manuver Partai Damai Sejahtera (PDS) dalam memberikan suaranya kepada Megawati dalam Pemilu Presiden tahun 2004. Ketika akan bergabung dengan kubu Megawati-Hasyim Muzadi, PDS mengajukan sejumlah syarat, antara lain pencabutan SKB Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama Nomor 1/1969 dan UU Sisdiknas.
SKB 1/1969 ini berisi antara lain: setiap pendirian rumah ibadat perlu mendapatkan izin dari kepala daerah atau pejabat pemerintahan di bawahnya yang dikuasakan untuk itu. Sedangkan UU Sistem Pendidikan Nasional berisi antara lain kewajiban sekolah untuk menyediakan guru agama sesuai dengan agama siswa.
Dengan dua juta suara pendukung, PDS secara tegas berusaha menyuarakan aspirasi kelompoknya. Tuntutan PDS itu diterima PDIP sehingga para pendeta beramai-ramai mulai berkampanye unsuk suksesnya pasangan tersebut.
Mengapa kelompok Kristen begitu alergi terhadap SKB 1/1969 tersebut? Mereka selalu beralasan bahwa Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 tahun 1969, itu adalah “bertentangan dengan Pancasila, UUD 1945, Tap MPRS No XX/MPRS/1966, Hak Asasi Manusia untuk beribadah, menafikan kebebasan beribadah umat Kristen dan Katolik di Indonesia, serta menumbuhkan fanatisme sempit pada umat beragama lain.”

Permintaan PDS kepada Mega untuk mencabut UU Sisdiknas juga selaras dengan misi Kristen dalam bidang pendidikan. Mereka tahu betul PDIP adalah partai yang paling lantang menolak UU yang menerangkan bahwa “tujuan pendidikan adalah membuat siswa beriman” . Saat palu diketuk tahun 2003 oleh DPR dengan musyawarah, Fraksi Partai PDIP menolak hadir.
Mereka melakukan berbagai macam cara untuk menjegal RUU ini. Dari mulai melakukan konsolidasi internal yang dipimpin langsung Megawati hingga menyerukan partai lainnya untuk menunda pengesahan RUU Sisdiknas.
Langkah partai bermoncong putih inipun menimbulkan kecaman dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sekum MUI saat itu, Din Syamsuddin, menyatakan klaim PDIP bahwa pengesahan RUU Sisdiknas akan menimbulkan konflik di masyarakat tidak beralasan.
Sebab, pasal-pasal dalam RUU Sisdiknas terutama pasal 13 ayat 1 A, tidak hanya menguntungkan umat Islam, tetapi juga umat lainnya karena pengajaran agama akan dilakukan oleh guru yang seagama.
Sementara itu komisi VI DPR RI yang menangani pembahasan RUU Sisdiknas Taufikurrahman Saleh menyatakan, masyarakat tidak perlu gelisah dengan tertundanya pengesahan RUU Sisdiknas tersebut. Menurut Taufik, RUU tersebut tidak menguntungkan ataupun merugikan kelompok tertentu.
Akhirnya Wakil Ketua DPR AM Fatah menegaskan bahwa RUU Sisdiknas akan tetap disahkan walaupun diboikot oleh PDIP. Pengesahan ini harus dilakukan guna menghindari adanya konflik-konflik konflik horizontal di tengah masyarakat.

Saat Megawati lengser menjadi presiden, kegigihan PDIP di front terdepan dalam membela kelompok Kristen tidaklah pudar. Saat Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin terbukti melakukan kecurangan, PDIP justru tampil membela.
Bersama aktivis liberal, PDIP menuntut agar pemerintah mengeluarkan izin pembangunan bagi Gereja yang telah memalsukan tanda tangan warga itu. Tidak tanggung-tanggung, Ketua Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi), organisasi sayap PDI-P, Hamka Haq turun gunung untuk membela gereja. Hamka Haq mengatakan pembelaan partainya terhadap GKI Yasmin justru dilandasi semangat menyebarkan “Islam kebangsaan”.
“Siapa yang menjaga Islam di Papua, di Nusa Tenggara Timur. Ya, orang kuat di sana yang mungkin dari kalangan Kristiani. Kami bilang sama mereka, gereja mereka di sini kami jaga juga, jadi tolong masjid kami juga mereka jaga,” kata Hamka Haq.
Pernyataan Hamka Haq yang dinilai banyak kalangan sebagai Profesor Liberal ini tentu sangat naif. Karena selama ini PDIP tidak pernah terdengar dalam pembelaan terhadap muslim minoritas di daerah-daerah basis non muslim. Di mana suara pembelaan PDIP terhadap umat Islam dalam raperda kota Injil? Di mana suara PDIP dalam pembelaan umat Islam di NTT saat adzan dilarang di Kupang Barat dan pesantren mereka nyaris dibakar? Dan di mana suara PDIP dalam pembelaan ratusan pelajar muslimah yang dilarang memakai jilbab di Bali?
Tindakan culas dari GKI Yasmin jelas membuat masyarakat marah dan resah. Umat Islam di Bogor tidak melarang kelompok Kristen membangun gereja dan beribadah. Asal sudah memenuhi ketentuan syarat dan perundang-undangan. Karena umat Islam dikenal sangat toleran.
Tak terima dicurangi, warga kemudian meneruskan kecurangan ini ke pengadilan. Izin Mendirikan Bangunan (IMB) GKI Yasmin akhirnya dicabut, dan kasasinya ditolak Mahkamah Agung (MA). Dan lagi-lagi PDIP tidak puas dengan keputusan itu dan mencabut dukungannya terhadap Walikota Bogor Diani Budiarto.

Jokowi: Menguntungkan Kristen

Dengan rentetan kisah kelompok Kristen dan kegigihan PDIP dalam melakukan advokasi seharusnnya membuat umat Islam belajar bahwa Jokowi bukanlah pilihan yang menguntungkan bagi Islam. Jokowi tidak memiliki track record membanggakan dalam pembelaanya terhadap umat Islam.
Sebaliknya, selama Jokowi memimpin umat Islam kerap dirugikan dengan kebijakan Jokowi dalam “menaikkan” Kristen. Pengalaman pemilihan gubernur Jakarta bisa jadi contoh bagi umat Islam. Saat meninggalkan Solo, Jokowi memberikan jalan gratis bagi Fransiskus Xaverius Hadi Rudyatmo untuk melenggang ke kursi Walikota Solo.

Begitu juga dengan DKI Jakarta. Dikenal sebagai daerah dengan basis muslim yang kuat (Betawi), Jokowi justru mulai membuka front kepada umat Islam dengan menunjuk Lurah Kristen Susan Jasmine untuk memimpin warga Lenteng Agung. Move jokowi dengan wakilnya Ahok ini menimbulkan ketegangan Umat Islam di daerah selatan Jakarta itu.
Menurut warga setempat, selama Susan menjabat sebagai Lurah Lenteng Agung, dampak negatifnya langsung terasa, seperti tergerusnya etika pergaulan sosial yang sudah membudaya di masyarakat Lenteng Agung. Ucapan salam diganti menjadi ‘selamat pagi’ atau ‘good morning‘ bukan ucapan salam layaknya mayoritas warga Lenteng Agung

Berhari-hari umat Islam menggelar demonstrasi untuk menolak Susan. Mereka pun menggalang dukungan untuk mendesak Jokowi mencabut kebijakannya. Merespons gejolak warga tersebut, Mendagri Gamawan Fauzi menyarankan supaya Jokowi mengevaluasi penempatan Susan. Akan tetapi, penolakan warga dan saran Mendagri dinilai sebagai betuk sektarianisme dan politisasi Suku Agama Ras dan antar Golongan (SARA).
“Jangan sampai urusan agama dibawa-bawa ke sana,” kata Jokowi.
“Perlawanan” terhadap himbauan Mendagri pun juga dilakukan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang kecipratan popularitas Jokowi, dan mengaku putra ideologis Bung Karno itu.
Usai menyampaikan pidatonya pada Hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober 2013, dengan berapi-api Ahok menyatakan sikapnya. “Kami akan tetap pertahankan Lurah Susan. Kami tidak akan geser dia karena masalah SARA dan persaingan di dalam. Kita hidup di negara Pancasila. Pengangkatan dan pemberhentian kami pertimbangkan berdasarkan prestasi,” ujar Ahok.
Maka sangatlah beralasan jika Umat Islam mulai membaca bahwa move politik Jokowi menjadi calon presiden, akan mengulangi langkah Jokowi di Solo. Bukan tidak mungkin inilah jalan yang akan menjadi ruang besar Ahok untuk menduduki kursi Gubernur di Jakarta.
Tentu tahun 2014 akan menjadi pertarungan politik bagi Umat Islam. Di sinilah solidaritas umat Islam diuji setelah dirongrong aliran sesat, dan kini afiliasi suara Kristiani akan kembali berhadapan dengan umat Islam dalam kontestasi bernama Pemilihan Umum 2014.
“Demikianlah seruan kita, dengan tulus dan ichlas. Sekalipun jika saudara-saudara menolak seruan mencari titik pertemuan itu, tidak apa. Kita akan masih dapat hidup berdampingan secara damai dan ragam. Hanya satu saja permintaan kami : Isyhaduu Bi Anna Muslimun!“ [Mohammad Natsir]
http://www.islampos.com/jokowi-pdip-dan-suara-kristen-dalam-pemilu-104079/

berbagi foto Dhone Ferdhone.
:: BONGKAR ::
BAGAIMANA SUDAH TERBUKTI BUKAN MISI MISSIONARIS MEREKA ??
BUKA MATA DAN HATI ANDA ...BACA DGN CERMAT...
HATI HATI MEMILIH CALON PRESIDEN TAHUN INI ..

BAGIKAAN !!
Kegagalan Jokowi Part II

6. Jokowi Tidak Peduli Heritage
  • Degan jargon “Solo Masa Depan adalah Solo Masa Lalu” membuat Jokowi dianggap sebagai walikota yang peduli dengan keberadaan bangunan bersejarah
  • Solo menjadi anggota world Heritage city
  • Perlawanan terhadap Gubernur Jateng Bibit Waluyo yang berencana membangun Mall di bekas pabrik es Saripetojo menjadikan dia seperti pahlawan Heritage
  • Yang terjadi sebenarnya terjadinya konspirasi antara pengusaha dan penguasa.
  • Jokowi dan FX Hady Rudiatmo mengerahkan preman untuk melawan Gubernur Jateng
  • Persaingan bisnis Mall milik pengusaha kroni Jokowi dan Kroni Bibit Waluyo
  • Pengelola mall lama Solo Paragon, Solo Grand Mall, Solo Square, dll mengadu pada Jokowi karena bisnisnya terancam bila ada mall besar lagi yang dibawa Bibit Waluyo masuk Solo.
  • Banyak bangunan heritage yang berubah fungsi habis dijadikan lahan bisnis di jaman Jokowi
  • Banyak bangunan bersejarah yang dirobohkan untuk kawasan hijau
Ada skenario besar dari pengusaha keturunan untuk menghapus heritage Solo (Soedarmono SU, sejarawan solo)

Mall dan supermarket serta pasar modern yang menjamur di solo telah menghisap asset ekonomi kerakyatan. Mereka menguasai pasar ritel dan tidak menyisakan untuk rakyat kecil
 7. Ekonomi Kerakyatan Hanya isapan jempol
  • Membangun ekonomi kerakyatan dengan memoderenisasi pasar tradisional agar bisa bersaing dengan mall dan pasar modern yang menjamur di Solo
  • Banyak pedagang yang kecewa dengan konsep pembangunan pasar yang tidak sesuai dengan keinginan pedagang
  • Pasar tradisional hanya tinggal menunggu kematiannya (Soedarmono SU dosen UNS)
  • Pasar ritel sudah terlanjur dikuasai pemilik modal yang mendirikan mall dan toko modern di Solo
Banyak masyarakat yang menjadi miskin karena kegagalan pemberdayaan ekonomi

Banyak taman dibangun tapi tak dirawat dengan baik, akibatnya banyak yang rusak.
8. Banyak membangun Taman tapi tidak bisa merawat
  • Demi mewujudkan Solo sebagai kota Green City banyak dibangun taman-taman kota
  • Ruang taman hijau ( RTH) dibangun dimana-mana
  • Banyak taman yang terkesan mangkrak karena tidak dikelola dan dirawat dengan baik
Kalangan dewan mengkritik tamanisasi yang tidak sukses

Sudut galabo yang sepi senyap, pedagang mengeluh omset terus menurun
 9. Kegagalan Pusat Kuliner Gladag Langen Bogan (Galabo)
  • Kosepnya membuat wisata kulier baru di kawasan Gladag pada malam hari
  • Mengumplukan kulier yang selama ini dikenal di Solo dalam satu kawasan
  • Pedagang disediakan semua fasilitas mulai gerobak dan peralalatan pendukungnya
  • Awalnya jumlahnya 76 pedagang
  • Ternyata banyak pedagang yang mengluh tidak laku dan tutup, kini hanya tinggal 45 pedagang
Banyak fasilitas yang rusak tidak terawat

Videotronik di Solo salah satu program yang dianggap sarat praktek korupsi yang membuat anggota DPRD Kota Surakarta mengajukan interpelasi

Restoran omah sinten milik Jokowi di dekat mangkunegaran yang membuat Jokowi resah karena dibidik KPK
10. Solo Berseri Dengan Korupsi
  • Jokowi memperoleh Bung Hatta Anti Coruption Awadr (BHACA) karena dianggap pejabat yang bersih
  • Jokowi resah karena merasa sedang dibidik KPK karena kepemilikan restoran rumah sinten bernilai milyaran
  • Dia sempat curhat kepada temannya di DPRD Solo soal Omah Sinten
  • Polisi dan kejaksaan pernah mengusut beberapa kasus korupsi di SKPD Solo
  • Saat ini, Polisi masih menunggu ijin presiden untuk memeriksa Wawali FX Hady Rudiatmo dalam korupsi dana untuk klub sepakbola Persis
Anggota Dewan pernah mengajukan interpelasi soal Videotronik karena tidak jelas setoran uangnya kemana.

Di TPA Putri Cempo sampah hanya ditumpuk saja tidak diproses. Untungnya ada pemulung dan sapi yang berperan mengurangi volume sampah

Kondisi pintu air Demangan, Sangkrah, Pasarkliwon, Solo dipenuhi sampah saat ditutup (foto SOLOPOS)
11. Jokowi Lalai Mengelola Sampah kota
  • Volume sampah yang dihasilkan warga Solo terus bertambah
  • Sampah sudah menjadi permasalah yang serius
  • Jokowi ternyata tidak memiliki grand desain pengelolaan sampah kota Solo
  • Sampah hanya dikumpulkan diangkut dan dibuang di TPA Putri Cempo
Menimbulkan limbah bau yang menyengat di sekitar TPA yang dikeluhkan masyarakat

Salah satu sudut gedung kesenian di Sriwedari yang sepi dan tidak terawat
12. Pengelolaan Taman Bersejarah tak jelas
  • Kawasan taman Sriwedari belum ada tanda-tanda perbaikan
  • Gedung kesenian nyatis tanpa aktivitas
  • Pembangunan Taman Balekambang tidak sesuai konsep Mangkunegoro X
Kolam Ikan klangenan raja dijadikan tempat pemancingan umum oleh wawali FX Rudy Hadiatmo

Belasan tersangka pemabuk dan pekerja seks komersial (PSK) saat terjaring razia penyakit masyarakat (Pekat) oleh petugas di Mapolsek Banjarsari Solo, Jumat (22/6/2012) (foto SOLOPOSFM)
13. Pembangunan moral terabaikan
  • Jokowi tidak pernah peduli  pembangunan moral
  • Praktek pelacuran makin berkembang pesat di Solo
  • Penyakit Menular Seksual  (PMS), HIV/AIDS mengancam masyarakat
  • Kriminalitas makin berkembang
  • Banyak remaja terjerumus dalam praktek prostusi dan criminal
Tiap tahun ada penambahan penderita AIDS 15 persen.

Prabowo Subianto Justru Keturunan Kapiten yang Basmi Pangeran Diponegoro

Selasa, 1 April 2014 12:54 WIB
Prabowo Subianto Justru Keturunan Kapiten yang Basmi Pangeran Diponegoro
Tribunnews/Dany Permana
Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto memeriksa barisan dengan menunggang kuda saat menghadiri kampanye Partai Gerindra di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Minggu (23/3/2014). Partai Gerindra sendiri dari jauh hari telah menetapkan Prabowo Subianto sebagai calon presidennya dalam Pemilu 2014 ini. (TRIBUNNEWS/DANY PERMANA) 
Laporan Tim Liputan Khusus Tribun Jogja
TRIBUNNEWS.COM, YOGYAKARTA - Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto yang mengendarai kuda saat kampanye terbuka di Stadion Gelora Bung Karno Jakarta, Minggu (23/3/2014), menyisakan sebuah kesan kuat.
Setelahnya, Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, menyebut Letnan Jenderal (Purn) Prabowo Subianto itu keturunan Pangeran Diponegoro.
Menurut Basuki, hal itulah yang melatarbelakangi Jenderal Prabowo melakukan ritual berkuda sembari menyelipkan keris di bagian depan tubuhnya pada kampanye akbar Partai Gerindra.
Aksi itu cukup menyolok dan mengundang penasaran mengapa Prabowo melakukannya.
"Beliau memang keturunan Pangeran Diponegoro. Kalau gue yang pakai keris, baru bingung ntar lu," kata Basuki di Balaikota DKI Jakarta, Senin (24/3).
Benarkah Prabowo Subianto ini keturunan sang pangeran pengobar Perang Jawa (1825-1830) itu? Bukankah ia juga punya darah Minahasa dari garis ibunya, Dora Sigar.
Penelusuran Tribun sepanjang pekan lalu ke sejumlah narasumber di Yogya maupun Manado dan Minahasa, kampung halaman Dora Sigar, menemukan data dan fakta menarik.
Ada semacam paradoks pada diri Prabowo secara historis, berdasar riwayat keluarganya. Dari Langowan, kota kecil di Minahasa Utara, diperoleh informasi di tubuh Prabowo dan saudara- saudaranya masih mengalir darah Benyamin Thomas Sigar alias Tawajln Sigar.
Kapiten Langowan
Siapakah dia? Tawajln Sigar ini tetua keluarga di Langowan, yang pernah menjadi kapiten ketika pasukan Tulungan atau pasukan bantuan (hulptroepen) dari suku-suku di Minahasa dikirim ke Jawa untuk membantu memadamkan perlawanan Pangeran Diponegoro.
Pengiriman hulptroepen dari Minahasa dilakukan dua gelombang. Pertama pada tahun 1826, dan kedua pada 1829.
Kapiten Tawajlin Sigar diberangkatkan di gelombang kedua, di bawah pimpinan Mayor Tololiu Herman Willem Dotulong, tokoh utama pasukan Tulungan.
Bode Grey Talumewo, peneliti muda dan pengumpul data sejarah Minahasa kepada Tribun meyakinkan, Prabowo Subianto merupakan turunan kelima dari Kapiten Langowan, Benyamin Thomas Sigar. Dialah yang ikut membantu Dotulong selama tugas di Jawa.
Bode menjelaskan, turunan Benyamin Thomas Sigar yakni Bastian Sigar yang memiliki anak Laurents T Sigar, Kepala Walak Langowan.
Anak Laurents diberi nama Philip Sigar yang tak menjabat apa pun. Dari Philip lahirlah Philip LF Sigar.
Philip inilah yang merupakan ayah Dora Sigar, ibunda Prabowo dan saudara-saudaranya. Dora Sigar yang dibawa ayahnya ke Utrecht, Belanda, bertemu Prof Dr Soemitro Djojohadikusumo di negeri itu, mereka kemudian menikah.
Philip LF Sigar ini pribadi yang cemerlang. Ia pernah menduduki jabatan Sekretaris Karesidenan Manado (1922-1924), sebelum ditugaskan ke Bandung, Jawa Barat. Ayah Dora Sigar ini menjadi orang Indonesia yang menduduki jabatan tinggi dam strategis di jaman Hindia Belanda.
"Dora Sigar kemudian bertemu dengan Soemitro di Belanda. Saat itu Soemitro kuliah di Belanda. Dari keduanya kemudian lahirlah Prabowo Subianto dan saudara-saudaranya," kata Bode yang kini mengumpulkan data sejarah pemimpin perang era Minahasa lama

Leluhur Prabowo Subianto yang Tangkap Pangeran Diponegoro

Selasa, 1 April 2014 14:35 WIB
 
Leluhur Prabowo Subianto yang Tangkap Pangeran Diponegoro
Warta Kota/Henry Lopulalan
Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto dengan menggunakan mobil berkeliling menyapa ribuan kader partainya yang hadir pada kampanye terbuka Partai Gerindra di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta Pusat, Minggu (23/3/2014). Acara yang dihadiri oleh semua kader dari seluruh Indonesia itu merupakan puncak kampanye legislatif partai yang berlambang kepala burung garuda tersebut. Warta Kota/Henry Lopulalan 
Laporan Tim Liputan Khusus Tribun Jogja
TRIBUNNEWS.COM, YOGYAKARTA - Ketua Dewan Pembinan Partai Gerindra Prabowo Subianto, ternyata merupakan keturunan seorang tokoh di Minahasa bernama Benyamin Thomas Sigar alias Tawajln Sigar.
Benyamin, merupakan tokoh ternama di Langowan, kota kecil di Minahasa Utara.
Meity Sigar, seorang pengurus keluarga besar Sigar di Langowan, Minahasa, menuturkan kisah turun temurun, Benyamin Thomas Sigar merupakan yang konon ikut menangkap Pangeran Diponegoro.
"Memang tak ada dokumen atau fakta sejarah yang ada pada kami. Tapi menurut cerita dari orang-orang tua kami, Opa Benyaminlah yang menangkap Pangeran Diponegoro," ujar Meity Sigar ditemui Tribun di rumahnya di Langowan, Rabu (26/3/2014).
Bukti hubungan kekerabatan Prabowo dengan tokoh legendaris Langowan itu, bisa dilihat dari dokumentasi ketika Prabowo selalu menziarahi makam Benyamin T Sigar.
Ia juga pernah membantu pembangunan kubur leluhurnya itu beberapa tahun lalu. Sementara penelusuran dari sisi silsilah Jawa, informasi Basuki Tjahaja Purnama, ternyata tak begitu akurat.
Prabowo, tidak memiliki hubungan darah langsung dengan Pangeran Diponegoro, baik dari garis nenek maupun kakeknya, Margono Djojohadikusumo.
Kalaupun ada jaraknya amat jauh. Dari garis kakeknya, Margono Djojohadikusumo, ditarik ke atas bergenerasi, Prabowo merupakan keturunan Raden Tumenggung Kertonegoro IV alias Tumenggung Banyakwide, panglima perang Pangeran Diponegoro di Gowong, Kedu.
Ditarik ke atas lagi, dari Banyakwide mentok ke Adipati Mrapat alias Raden Joko Kaiman, Adipati pertama Banyumas.

 

Beberkan ESEMKA, Sukiyat Mengaku Diancam

Sukiyat. JIBI/SOLOPOS/DokSukiyat. JIBI/SOLOPOS/Dok
          
SOLO – Pengusaha bengkel mobil dari Trucuk, Klaten, H Sukiyat mengaku sepanjang hari Minggu (4/3/2012), dirinya mendapat sejumlah ancaman dari berbagai pihak.
“Saya kan membeberkan masalah teknis apa adanya, seperti yang saya ketahui, tetapi rupanya ada sejumlah pihak yang tidak senang dengan apa yang saya beberkan,” ujar Kiyat melalui telepon kepada Espos.
Kiyat mengaku dirinya pasrah saja, tapi dirinya merasa lega telah membeberkan masalah mobil Esemka sesuai apa adanya. “Prinsipnya, saya bukan orang politik, saya orang teknik. Jadi yang saya ungkapkan masalah teknis sesuai dengan pengetahuan saya,” ujar Kiyat.
Dia enggan membeberkan siapa yang mengancam dirinya, tapi bila nanti terjadi sesuatu terhadap dirinya, masyarakat tahu bahwa memang ada sejumlah pihak yang ingin menyingkirkannya.
Terkait bantahan Direktur PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK), Sulistyo Rabono soal comot-comot komponen mobil lain, Kiat menyatakan silahkan aja pihak hal itu dibantah. “Toh ada saksinya Kepala SMK Trucuk yang tahu persis dimana membeli komponen yang comotan itu,” tutur Kiat.
“Saya ini hanya orang cacat yang ingin membagikan ilmu saya dalam memperbaiki body mobil, tidak ada sedikitpun keinginan saya untuk mencari ketenaran atau yang lain-lain,” ujar Kiat.
Lebih lanjut Sukiyat mengatakan, jika Jokowi dkk membantah apa yang dia katakan, maka dia mempersilakan mereka menyebutkan darimana asal komponen-komponen mobil Esemka itu. “Tanyakan kepada Jokowi, dimana di Indonesia yang membuat gardan mobil, transmisi box, axle dll,” sambung Kiat, seraya menambahkan kalau memang ada pabrik yang memproduksi komponen tiruan maka itu namanya pembohongan kepada publik.  Danie H Soe’oed
Kenapa Joko widodo dan Tri risma harini sering muncul di media Televisi
Klo Saya dari jamannya Megawati blm jadi presiden memang sudah tidak suka dgn PDIP,krn menurut saya partai itu memang terlalu banyak diisi oleh kader2 dan simpatisan2 yg berbahaya dlm hal apapun,dan menurut pengamatan saya disaat Megawati memimpin pemerintahan RI kabinet gotong royong,,kader2 dan simpatisan PDIP kelakuannya sangat2 arogan,mereka tidak segan2 membubarkan kerumunan massa yg sedang berdemo,satgas2 PDIP itu sangat2 tidak suka kalau ada sekerumunan massa yg mendemo kabinet gotong royongnya PDIP,hal seperti itu sering terjadi waktu di jaman megawati menjabat sebagai presiden,bahkan prestasi korupsinya PDIP pun sampai saat ini belum ada yg mengalahkan,tp ada satu hal yg hrs kita ingat bahwa Tri risma harini itu jg brasal dr partai yg sama yaitu PDIP,bkn bermaksut untuk berfikiran su'udzon terhadap tri risma yg sudah punya niat baik menutup selama2nya tempat lokalisai dolly tp dsini saya melihat dari isu ingin mundurnya tri risma harini sebagai walikota surabaya yg kemaren sangat ramai di beritakan di media televisi adalah sebuah bentuk pengiklanan dirinya untuk mencari popularitas terhadap rakyat indonesia,krn slama ini faktanya rakyat indonesia belum banyak yg tau siapa Tri risma harini,masyarakan indonesia diluar pulau Jawa jg tidak banyak yg tau muka tri risma harini seperti apa,mungkin saja dia memang sudah di niatkan oleh PDIP untuk di duetkan bersama Jokowi sebagai capres dan cawapres,perkataan dia ingin mundur sebagai walikota saya asumsikan memang dia ingin mundur dari jabatan walikota tp setelah dia mundur dr walikota surabaya dia maju lg menjadi cawapres 2014 dr partai PDIP,,kita bisa lihat fakta yg terjadi saat ini,kita sering melihat di media televisi komentar2 jokowi klo di tanya wartawan soal pencapresan,pasti dia slalu bilang,Saya tidak ngurusin soal copras capres,copras capresan,,yg menjadi proritas saya adalah membenahi semua permasalahan yg ada di jakarta tp faktanya skrg dia sudah di daulat sebagai Capres oleh PDIP,padahal dia sudah berjanji ingin menuntaskan masa jabatannya slama 5 Tahun dan tidak akan menjadikan jabatan gunbernur ini sebagai batu loncatan menuju RI 1, tdk menutup kemungkinan jg hal seperti ini bisa terjadi pada diri tri risma harini,,knp saya memprediksikan bahwa jokowi dan tri risma harini bakal di duetkan PDIP sebagai capres dan cawapres,satu hal yg pasti di indonesia ini mayoritasnya adalah pemeluk agama islam,fakta yg terjadi saat ini banyak kelompok2 islam yg memang tdk suka dgn jokowi di samping memang kualitas dan prestasinya jokowi di jakarta blm terbukti mampu membenahi permasalah yg ada di jakarta di sisi lain kelompok2 islam indonesia memang banyak yg meregukan keislaman jokowi,Pasti kita semua msh ingat bagaimana ekspresi muka Jokowi saat ditanya soal makna ramadhannah dan bagaimana dia gagapnya menjawab pertanyaan soal makna ramadhan itu, dsini saya melihat megawati dan PDIP mencari celah untuk menutupi kekurangan jokowi di mata Mayoritas,di pilihlah Tri risma harini sebagai cawapres 2014 untuk menutupi kekurangan Jokowi di mata mayoritas islam indonesia,,tri risma harini ini kan memakai kerudung trs dia sangan berniat menutup lokalisai dolly untuk slama2nya,mungkin PDIP berpikiran seperti ini : dgn menduetkan Jokowi dan Tri risma harini sebagai capres dan cawapres 2014 Mungkin kelompok mayoritas islam yg slama ini menilai miring terhadap jokowi akan melunakan hatinya dan bisa menerima jokowi sebagai presiden RI 2014,,ibaratnya PDIP ini sedang menggunakan cara halus dlm berperang,mereka ini tidak menggunakan Bom yg bisa meledak yg suaranya bisa terdengar sampai puluhan kilometer tp untuk mengalahkan lawan2nya PDIP ini menggunakan Virus untuk melumpuhkannya,disaat lawan2 PDIP dan Masyarakat indonesia tidak kritis dlm hal berpikir,Maka secara perlahan virus2 ini mulai di sebar oleh PDIP dengan metode Blusukan dan pemberitaan2 positiv tentang Joko widodo dan tri risma harini,mereka menyebar virus ini lewat media Televisi,media sosial,media cetak,acara2 Talk Show dan segala macam Portal2 pemberita yg skrg ini sangat marak di internet,Jadi bisa saya simpulkan bahwa Joko widodo dan Tri risma harini ini adalah sebuah Mesin Tempur yg sudah diseting sedemikian rupa oleh partai PDIP,,Megawati dan Cina2 hitam yg terlibat kasus BLBI ...
SAY NO TO PDIP ,, SAY NO TO JOKO WIDODO
Maaf klo ternyata Tri risma harini ini tdk di duetkan sebagai capres dan cawapres oleh PDIP,krn tulisan ini hanya asumsi saya saja,


Suka ·



Sejarah Gelap Para Paus


 Ditulis oleh Dr Adian Husaini
Kejahatan Paus Benediktus IX memang sangat luar biasa. Bukan hanya soal kejahatan seksual, tetapi ia juga menjual tahta kepausannya dengan harga 680 kg emas kepada bapak baptisnya, John Gratian. Gara-gara itu, disebutkan, ia telah menguras kekayaan Vatikan.
“Sejarah Gelap Para Paus – Kejahatan, Pembunuhan, dan Korupsi di Vatikan”. Itulah judul sebuah buku yang belum lama ini diterbitkan oleh Kelompok Kompas-Gramedia (KKG). Edisi bahasa Inggris buku ini ditulis oleh Brenda Ralph Lewis dengan judul Dark History of the Popes – Vice Murder and Corruption in the Vatican. “Benediktus IX, salah satu paus abad ke-11 yang paling hebat berskandal, yang dideskripsikan sebagai seorang yang keji, curang, buruk dan digambarkan sebagai ‘iblis dari neraka yang menyamar sebagai pendeta’. (hal.9)
Itulah sebagian gambaran tentang kejahatan Paus Benediktus IX dalam buku ini. Riwayat hidup dan kisah kejahatan Paus ini digambarkan cukup terperinci. Benediktus IX lahir sekitar tahun 1012. Dua orang pamannya juga sudah menjadi Paus, yaitu Paus Benediktus VIII dan Paus Yohanes XIX. Ayahnya, Alberic III, yang bergelar Count Tusculum, memiliki pengaruh kuat dan mampu mengamankan singgasana Santo Petrus bagi Benediktus, meskipun saat itu usianya masih sekitar 20 tahunan.
Paus muda ini digambarkan sebagai seorang yang banyak melakukan perzinahan busuk dan pembunuhan-pembunuhan. Penggantinya, Paus Viktor III, menuntutnya dengan tuduhan melakukan ‘pemerkosaan, pembunuhan, dan tindakan-tindakan lain yang sangat keji’. Kehidupan Benediktus, lanjut Viktor, ‘Begitu keji, curang dan buruk, sehingga memikirkannya saja saya gemetar.” Benediktus juga dituduh melakukan tindak homoseksual dan bestialitas.
Kejahatan Paus Benediktus IX memang sangat luar biasa. Bukan hanya soal kejahatan seksual, tetapi ia juga menjual tahta kepausannya dengan harga 680 kg emas kepada bapak baptisnya, John Gratian. Gara-gara itu, disebutkan, ia telah menguras kekayaan Vatikan.
Paus lain yang dicatat kejahatannya dalam buku ini adalah Paus Sergius III. Diduga, Paus Sergius telah memerintahkan pembunuhan terhadap Paus Leo V dan juga antipaus Kristofer yang dicekik dalam penjara tahun 904. Dengan cara itu, ia dapat menduduki tahta suci Vatikan. Tiga tahun kemudian, ia mendapatkan seorang pacar bernama Marozia yang baru berusia 15 tahun.
Sergius III sendiri lebih tua 30 tahun dibanding Marozia. Sergius dan Marozia kemudian memiliki anak yang kelak menjadi Paus Yohanes XI, sehingga Sergius merupakan satu-satunya Paus yang tercatat memiliki anak yang juga menjadi Paus.
Sebuah buku berjudul Antapodosis menggambarkan situasi kepausan dari tahun 886-950 Masehi:
“Mereka berburu dengan menunggang kuda yang berhiaskan emas, mengadakan pesta-pesta dengan berdansa bersama para gadis ketika perburuan usai dan beristirahat dengan para pelacur (mereka) di atas ranjang-ranjang berselubung kain sutera dan sulaman-sulaman emas di atasnya. Semua uskup Roma telah menikah dan istri-istri mereka membuat pakaian-pakaian sutera dari jubah-jubah suci.”
Banyak penulis sudah mengungkap sisi gelap kehidupan kepausan. Salah satunya Peter de Rosa, penulis buku Vicars of Christ: The Dark Side of the Papacy. Buku ini juga mengungkapkan bagaimana sisi-sisi gelap kehidupan dan kebijakan tahta Vatikan yang pernah melakukan berbagai tindakan kekejaman, terutama saat menerapkan Pengadilan Gereja (Inquisisi). Kekejaman Inquisisi sudah sangat masyhur dalam sejarah Eropa. Karen Armstrong, mantan biarawati dan penulis terkenal, menyebutkan, bahwa Inquisisi adalah salah satu dari institusi Kristen yang paling jahat (one of the most evil of all Christian institutions). (Karen Armstrong, Holy War: The Crusades and Their Impact on Today’s World, (London: McMillan London Limited, 1991).
Inquisisi diterapkan terhadap berbagai golongan masyarakat yang dipandang membahayakan kepercayaan dan kekuasaan Gereja. Buku Brenda Ralph Lewis mengungkapkan dengan cukup terperinci bagaimana Gereja menindas ilmuwan seperti Galileo Galilei dan kawan-kawan yang mengajarkan teori heliosentris. Galileo (lahir 1564 M) melanjutkan teori yang dikemukakan oleh ahli astronomi asal Polandia, Nikolaus Copernicus. Tahun 1543, tepat saat kematiannya, buku Copernicus yang berjudul De Revolutionibus Orbium Coelestium, diterbitkan.
Tahun 1616, buku De Revolutionibus dimasukkan ke dalam daftar buku terlarang. Ajaran heliosentris secara resmi dilarang Gereja. Tahun 1600, Giordano Bruno dibakar hidup-hidup sampai mati, karena mengajarkan bahwa bumi berputar mengelilingi matahari. Lokasi pembakaran Bruno di Campo de Fiori, Roma, saat ini didirikan patung dirinya.
Melihat situasi seperti itu, Galileo yang saat itu sudah berusia lebih dari 50 tahun, kemudian memilih sikap diam.
Pada 22 Juni 1633, setelah beberapa kali dihadirkan pada sidang Inquisisi, Galileo diputus bersalah. Pihak Inquisisi menyatakan bahwa Galileo bersalah atas tindak kejahatan yang sangat mengerikan. Galileo pun terpaksa mengaku, bahwa dia telah bersalah. Bukunya, Dialogo, telah dilarang dan tetap berada dalam indeks Buku-Buku Terlarang sampai hampei 200 tahun. Galileo sendiri dihukum penjara seumur hidup. Ia dijebloskan di penjara bawah tanah Tahta Suci Vatikan. Pada 8 Januari 1642, beberapa minggu sebelum ulang tahunnya ke-78, Galileo meninggal dunia. Tahun 1972, 330 tahun setelah kematian Galileo, Paus Yohanes Paulus II mengoreksi keputusan kepausan terdahulu dan membenarkan Galileo.
Kisah-kisah kehidupan gelap para Paus serta berbagai kebijakannya yang sangat keliru banyak terungkap dalam lembaran-lembaran sejarah Eropa. Peter de Rosa, misalnya, menceritakan, saat pasukan Napoleon menaklukkan Spanyol tahun 1808, seorang komandan pasukannya, Kolonel Lemanouski, melaporkan bahwa pastor-pastor Dominikan mengurung diri dalam biara mereka di Madrid.
Ketika pasukan Lemanouski memaksa masuk, para inquisitors itu tidak mengakui adanya ruang-ruang penyiksaan dalam biara mereka. Tetapi, setelah digeledah, pasukan Lemanouski menemukan tempat-tempat penyiksaan di ruang bawah tanah. Tempat-tempat itu penuh dengan tawanan, semuanya dalam keadaan telanjang, dan beberapa di antaranya gila.
Pasukan Prancis yang sudah terbiasa dengan kekejaman dan darah, sampai-sampai merasa muak dengan pemandangan seperti itu. Mereka lalu mengosongkan ruang-ruang penyiksaan itu, dan selanjutnya meledakkan biara tersebut.
Kejahatan penguasa-penguasa agama ini akhirnya berdampak pada munculnya gerakan liberalisasi dan sekularisasi di Eropa. Masyarakat menolak campur tangan agama (Tuhan) dalam kehidupan mereka.
Sebagian lagi bahkan menganggap agama sebagai candu, yang harus dibuang, karena selama ini agama digunakan alat penindas rakyat. Penguasa agama dan politik bersekutu menindas rakyat, sementara mereka hidup berfoya-foya di atas penderitaan rakyat. Salah satu contoh adalah Revolusi Perancis (1789), yang mengusung jargon “Liberty, Egality, Fraternity”.
Pada masa itu, para agamawan (clergy) di Perancis menempati kelas istimewa bersama para bangsawan. Mereka mendapatkan berbagai hak istimewa, termasuk pembebasan pajak. Padahal, jumlah mereka sangat kecil, yakni hanya sekitar 500.000 dari 26 juta rakyat Prancis.
Dendam masyarakat Barat terhadap keistimewaan para tokoh agama yang bersekutu dengan penguasa yang menindas rakyat semacam itu juga berpengaruh besar terhadap sikap Barat dalam memandang agama. Tidak heran, jika pada era berikutnya, muncul sikap anti pemuka agama, yang dikenal dengan istilah “anti-clericalism”. Trauma terhadap Inquisisi Gereja dan berbagai penyimpangan kekuasaan agama sangatlah mendalam, sehingga muncul fenomena “anti-clericalism” tersebut di Eropa pada abad ke-18. Sebuah ungkapan populer ketika itu, ialah: “Berhati-hatilah, jika anda berada di depan wanita, hatilah-hatilah anda jika berada di belakang keledai, dan berhati-hatilah jika berada di depan atau di belakang pendeta.” (Beware of a woman if you are in front of her, a mule if you are behind it and a priest whether you are in front or behind).” (Owen Chadwick, The Secularization of the European Mind in the Nineteenth Century, (New York: Cambridge University Press, 1975).
Trauma pada dominasi dan hegemoni kekuasaan agama (Kristen) itulah yang memunculkan paham sekularisme dalam politik, yakni memisahkan antara agama dengan politik. Mereka selalu beralasan, bahwa jika agama dicampur dengan politik, maka akan terjadi “politisasi agama”; agama haruslah dipisahkan dari negara. Agama dianggap sebagai wilayah pribadi dan politik (negara) adalah wilayah publik; agama adalah hal yang suci sedangkan politik adalah hal yang kotor dan profan.
Trauma Barat terhadap sejarah keagamaan mereka berpengaruh besar terhadap cara pandang mereka terhadap agama. Jika disebut kata “religion” maka yang teringat dalam benar mereka adalah sejarah agama Kristen, lengkap dengan doktrin, ritual, dan sejarahnya yang kelam yang diwarnai dengan inquisisi dan sejarah persekusi para ilmuwan.
Berbagai penyelewengan penguasa agama, dan pemberontakan tokoh-tokoh Kristen kepada kekuasaan Gereja yang mengklaim sebagai wakil Kristus menunjukkan bahwa konsep “infallible” (tidak dapat salah) dari Gereja sudah tergoyangkan.
Kaum Muslim, perlu mengambil hikmah dari kasus kejahatan para pemimpin Gereja ini. Ketika para tokoh agama tidak mampu menyelaraskan antara ucapan dan perilakunya, maka masyarakat akan semakin tidak percaya, bahkan bias “alergi” dengan agama. Jika orang-orang yang sudah terlanjur diberi gelar -- atau memberi gelar untuk dirinya sendiri – sebagai “ULAMA”, tidak dapat mempertanggungjawabkan amal perbuatannya, maka bukan tidak mungkin, umat akan hilang kepercayaannya kepada para ulama. Mereka akan semakin jauh dari ulama dan lebih memuja selebriti – baik selebriti seni maupun politik.
Kasus yang menimpa sejumlah tokoh agama Katolik itu dapat juga menimpa agama mana saja. Jika tokoh-tokoh partai politik Islam tidak dapat memegang amanah -- sibuk mengeruk keuntungan pribadi dan kelompoknya, tak henti-hentinya mempertontonkan konflik dan pertikaian -- maka bukan tidak mungkin, umat akan lari dari mereka dan partai mereka.
Jika para pimpinan pesantren tidak dapat memegang amanah, para ulama sibuk mengejar keuntungan duniawi, dan sebagainya, maka umat juga akan lari dari mereka. Jika orang-orang yang dianggap mengerti agama tidak mampu menjadi teladan bagi masyarakat, tentu saja sulit dibayangkan masyarakat umum akan sudi mengikuti mereka.
Semoga kita dapat mengambil hikmah dari semua kisah ini, untuk kebaikan umat Islam di masa yang akan datang.*/Depok, 20 Maret 2011

Detail
Ditulis oleh Dr Adian Husaini