Kamis, 20 Maret 2014

Dick Tamimi, Di Udara Dia Jaya!.

Oleh : R. Indra Pratama
Manusia sering mengidentikkan udara sebagai tempat yang melambangkan kebebasan. Keinginan untuk lepas dari represi dan kontrol mendorong imaji manusia begitu jauh untuk berjalan di udara, meninggalkan batasan-batasan yang terdapat di darat. Jika tidak percaya silahkan anda berandai bertanya pada Orville dan Wilbur Wright, atau kepada Guglielmo Marconi dan Alexander Graham Bell.
Jika merasa kesulitan berbahasa Inggris atau Italia, anda bisa berandai-andai pula menghubungi seorang Mohammad Sidik Tamimi atau akrab dipanggil Dick Tamimi. Pria kelahiran Karawang, 13 Februari 1922 yang memilih udara sebagai tempat eksistensi diri. Mulai dari radio amatir, menjadi penerbang, hingga memproduseri puluhan album musik Indonesia yang menjadi hits.
Dick-Tamimi-1951-bw
Sulung dari tujuh bersaudara pura-putri pasangan Mohamad Tamimi (asal Riau, keturunan Bugis Luwu) dan Maswarijet (masih merupakan kerabat dari H.Agus Salim, tokoh pergerakan) ini mungkin awalnya tidak membayangkan akan begitu sohor akan perannya di udara. Kehidupan masa kecilnya dilalui seperti kebanyakan anak keluarga yang beruntung lainnya masa itu, menempuh jalur ELS, MULO B, dan AMS B.  Masa sekolah dia habiskan di daerah Petojo, Jakarta Pusat.
Namun ketertarikannya pada suatu benda yang terdapat di rumah, membentuk sebuah lorong yang akan mengangkatnya ke dunia udara. Benda itu adalah sebuah radio elektronik. Dick remaja hobi mendengarkan, dan kemudian berani mengotak-atik radio elektronik tersebut, yang akhirnya pada tahun 1941 mengarahkannya untuk mengambil ujian masuk di Technische Hoogeschool Bandung jurusan elektro setelah menamatkan tiga tahun jenjang AMS . Hasil ujian ternyata menyatakan Mohammad Sidik Tamimi lulus dan berhak menjadi mahasiswa jurusan elektro.
Malang untuk Dick Tamimi, kedatangan tentara Jepang ke Hindia tahun 1942, termasuk ke Kota Bandung, merubah situasi dan kondisi belajar para mahasiswa. Jepang membubarkan organisasi-organisasi mahasiswa dan mengarahkan para pemuda kepada kegiatan-kegiatan dan organisasi-organisasi yang dimaksudkan sebagai pendukung gerakan fasisme seperti Seinendan-Keibondan (Barisan Pelopor) dan Pembela Tanah Air (PETA). Kegiatan-kegiatan seperti indoktrinasi politik serta pelatihan militer menjadi makanan sehari-hari para pemuda.
Dick Tamimi memilih untuk meninggalkan kampus dan kembali ke Jakarta. Ia membuka tempat reparasi radio yang ia namakan “Reparasi Toendjoek”  di daerah Menteng Raya. Ia pun sempat bekerja di kilang pengolahan minyak di Sungai Gerong, dekat Palembang , Sumatera Selatan, sebagai electric engineer, sebelum kembali mendirikan reparasi elektronik “Esta”.
Setelah kemerdekaan, tepatnya tanggal 23 Agustus 1945, pemerintah mengumumkan hasil rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) sehari sebelumnya, yang menyatakan pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR). Dick Tamimi yang saat itu berada di Tangerang, memutuskan bergabung dengan Batalyon Perhubungan (PHB) Siliwangi di Resimen IV Tangerang, dibawah pimpinan Letkol Singgih dengan pangkat Letnan Dua. Kemudian ia dipindah tugaskan ke PHB Siliwangi Pusat yang berkedudukan di Tasikmalaya dengan pangkat terakhir Letnan Satu.
SK-AURI-Komandemen-Sumatera
Tahun 1947,  Dick Tamimi “dipinjam” oleh Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) –sekarang Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI-AU)- untuk ditempatkan di wilayah Sumatera, dibawah pimpinan Komandan Udara Halim Perdana Kusuma. Ia diplot untuk membantu Opsir Udara Dua Iswahyudi, dan kemuadian diberi kuasa mengambil alih peran Iswahyudi.
Kemudian Dick Tamimi, yang kini sudah berpangkat Letnan Penerbang, bersama Ferdy Salim, keponakan dari Haji Agus Salim, sekaligus kakak dari cendikiawan Emil Salim, dipercayakan untuk misi mencari dan menyelundupkan barang-barang militer seperti senjata, radio, dan juga kendaraan dari Singapura dan Bangkok, Thailand.
Salah satu misi terpenting adalah menjembatani pembelian pesawat pertama Republik Indonesia. Pada  1947, republik memang memiliki beberapa pesawat. Namun pesawat-pesawat itu merupakan hasil rampasan dan peninggalan penjajah, baik Jepang maupun Belanda. Pada September 1947 Wakil Presiden Mohammad Hatta menginstruksikan sebuah kebijakan ekonomi yang unik, yaitu mengumpulkan emas dari kerelaan pribadi warga Sumatera Barat untuk nantinya dibelikan pesawat terbang dan kebutuhan-kebutuhan militer lainnya.  Semua unsur-unsur tradisional Minangkabau dikerahkan untuk memobilisasi pengumpulan emas. Para ibu ramai-ramai mendatangi tempat-tempat yang ditentukan untuk menyerahkan perhiasan mereka secara sukarela.
Dalam tempo kurang dari dua bulan, telah terkumpul emas sekitar 14 sampai 15 kilogram. Dick Tamimi dan Ferdy Salim diberi tugas untuk mencari pesawat yang sesuai harga dan kapabilitasnya. Lewat perantara seorang broker asal Burma bernama H.Savage, Dick dihubungkan dengan seorang eks penerbang Royal Australian Air Force (RAF) pada Perang Dunia II bernama Paul Keegan. Paul hendak menjual sebuah Avro Anson miliknya. Paul akhirnya setuju menjual seharga 12 kilogram emas. Avro Anson itu pun diterbangkan ke Lapangan Gadut, Bukittinggi awal Desember 1947.
Tetapi untuk pembayaran Paul meminta pembayaran dilakukan di Songklha, Thailand. Makan Avro Anson pun diterbangkan lagi ke Thailand dengan penumpang Paul Keegan, seorang broker dari Singapura, Dick Tamimi, Is Yasin, Aboe Bakar Loebis (petugas bendahara pengumpulan emas) dan Halim Perdana Kusuma, yang ikut dengan maksud meminta bantuan dari angkatan udara Thailand.
Namun sesampainya di Thailand, tim diusir dengan tuduhan penyelundupan. Dick Tamimi beserta para anggota melarikan diri lewat jalan darat dengan rencana jalur Penang-Singapura-Bukittinggi. Sedangkan pesawat dilarikan oleh Halim Perdana Kusuma dan Iswahyudi. Namun baru satu jam mencapai Singapura,17 Desember 1947, tim darat dikejutkan dengan telegram yang menyebutkan Avro Anson yang dikemudikan Halim dan Iswahyudi jatuh di Pantai Selat Malaka, dekat Tanjung Hantu, Malaysia. Jenazah Halim diketemukan, sedangkan jenazah Iswahyudi tidak diketemukan hingga sekarang. Penyebab jatuhnya kapal pun masih misterius, apakah kecelakaan atau sabotase.
Anggota tim darat, termasuk Dick Tamimi pun tidak luput dari masalah. Aktivitas penyelundupan mereka membuat mereka dikenai status Persona non Grata dari pemerintah Inggris di Malaysia dan Singapura, yang menurut keterangan Allan Tamimi, putra Dick, berlaku 15 tahun, hingga tahun 1962. Namun akhirnya mereka berhasil kembali ke Bukittinggi.
Perjuangan “udara” Dick Tamimi rupanya tidak berakhir sampai saat itu. Saat keadaan darurat melanda republik menjelang Agresi Militer kedua, Mr.Sjafruddin Prawiranegara, pejabat Menteri Kemakmuran, membentuk (dengan inisiatif sendiri, karena sebenarnya beliau belum mendengar mandat dari Soekarno-Hatta mengenai pemerintahan darurat) Pemerintahan Darurat Republik Indonesia di Sumatera. Dick Tamimi menjadi salah satu kunci bertahannya pemerintahan darurat Mr.Sjafruddin. Saat wawancara dengan wartawan “Indonesia Raya”, Mr. Sjafruddin mengatakan bahwa “Kalau tidak ada Dick Tamimi, pemerintahan darurat tidak ada artinya”.
Letak keberhasilan terbesar Dick Tamimi pada masa itu ialah tercetusnya Resolusi PBB  yang memerintahkan gencatan senjata, terhadap Belanda di Indonesia. Dick Tamimi, dengan koneksi radio PK UDO yang ia kuasai, berhasil mempertahankan hubungan antara PDRI dengan Menteri Luar Negeri PDRI Mr.Maramis yang berkedudukan di New Delhi, India.
Belanda tak membiarkan begitu saja, para penggerak PDRI terus diburu. Mereka terus berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Termasuk juga Dick Tamimi beserta perangkat radio kesayangannya. PDRI sampai dijuluki Pemerintah Dalam Rimba Indonesia oleh mereka yang pro-Belanda karena rute pelarian mereka yang bagaikan pasukan gerilya. Mulai dari Halaban, Bangkinang, hingga Pekanbaru dijalani oleh rombongan ini. Tak selalu dengan mobil, kadang mereka harus menumpang rakit untuk berpindah.
Tapi dengan berani Sjafruddin membalas ejekan tersebut melalui pancaran radio ke seluruh dunia sebagai berikut :
Pemerintah kami biarpun dalam rimba, tetapi sah, karena masih di dalam daerah kekuasaan kami (Indonesia). Tetapi Belanda yang terang-terangan dalam undang-undang dasarnya menyatakan tidak sah mendirikan pemerintah atau memindahkannya ke luar daerah kekuasaanya, telah memindahkan kekuasaannya ke London, di waktu Nederland dikuasai Jerman tahun 1940. Pemerintahannya di Indonesia dipindahkan ke Australi. Lalu kenapa Belanda mencap PDRI yang masih di dalam daerahnya tidak sah?“.
Rombongan sempat mengalami penembakan di daerah Taluk. Tapi tetap berhasil melarikan diri ke arah Sungai Darah. Lalu perjalanan terpaksa dilanjutkan dengan berjalan kaki, tak kurang dari 40 kilometer sehari. Setelah berjalan melalui berbagai daerah, maka diputuskan bahwa pemerintahan darurat akan berkedudukan di suatu desa bernama Bidaralam. Disinilah kontak dengan New Delhi, dan juga Jawa, dilakukan, sehingga berita perjuangan PDRI tersebar luas secara internasional, dan peristiwa itu berhasil menguatkan tuntutan Indonesia, dengan dibantu wakil-wakil India di PBB, sehingga resolusi gencatan senjata bisa tembus dan diberlakukan.
Dick pensiun dari AURI tahun 1953 dengan jabatan terakhir Kepala Jawatan Perawatan Radio di Andir (Hussein Sastranegara) dengan pangkat kapten dan mengundurkan diri dari AURI pada tahun 1953 serta mendapat hak pensiun. Sebeumnya ia mendapat wing penerbang militernya pada tahun 1950.
Setelah pensiun, Dick Tamimi bersama Komodor Udara Suyoso Karsono mencoba membuka usaha penyuplai suku cadang pesawat terbang, namun usahanya itu tidak berjalan lancar. Dick pun mengisi waktu dengan menjadi sound engineer untuk studio rekaman Irama milik Suyoso, atau yang lebih dikenal sebagai Mas Yos. Disinilah ia menemukan “perjuangan udara” yang baru, dunia rekaman musik. Di studio garasi kecil itulah kecintaan Dick akan musik terasah.
Setelah puas menimba ilmu di Irama, Dick tahun 1956 akhirnya membentuk PT Dimita Moulding Industries yg dalam perjalanannya menjadi perusahaan piringan hitam dengan label Mesra Records dan Melody Records. Dimita sendiri merupakan gabungan dari para potongan nama para pendirinya, yaitu Di dari Dick Tamimi, Mi dari Soemitro, dan Ta dari Mohammad Tamimi (ayah Dick).
Tahun 1962 Dick merekam sekaligus menggarap album band bersaudara fenomenal Koes Bersaudara. Dick sendiri pernah menjadi soung engineer rekaman-rekaman Koes Bersaudara saat masih berformat duo di Irama. Long play (LP) Angin Laut menjadi awal kerjasama Koes Bersaudara dengan Dick Tamimi. Namun halangan mendera Koes Bersaudara saat mereka harus ditangkap dan dipenjara di Penjara Glodok karena tuduhan “antek nekolim” dengan membawakan lagu-lagu The Beatles di sebuah pesta. September 1965 Koes Bersaudara keluar penjara, saat itu tidak ada yang berani memodali mereka rekaman. Kondisi ekonomi dan politik sedang sulit, ditambah status mereka sebagai band residivis membuat posisi Koes Bersaudara ikut sulit. Namun hanya seorang Dick Tamimi yang berani menawarkan kontrak pada Tonny Koeswoyo dan adik-adiknya. Hasilnya adalah sebuah album ultra ngak-ngik-ngok berjudul To the So Called the Guilties, dengan lagu-lagu protes terkeras pada masa itu seperti “Poor Clown” dan “To the So Called the Guilties”.
Ketika Nomo Koeswoyo keluar dan digantikan oleh Kasmuri, yang mengubah nama Koes Bersaudara menjadi Koes Plus, mereka tetap betah rekaman di Mesra, setidaknya hingga tahun 1972 dimana mereka yang telah merilis enam album plus satu album natal pindah ke perusahaan Remaco. Tidak hanya musik rock n roll, Mesra dan Melody juga merilis album dari berbagai genre musik, seperti album Gumarang Jang Terkenal yang eklektik dengan nuansa Sumatera Barat, beberapa album pop dari penyanyi Alfian, album debut Benyamin Sueb, hingga album Degung Sunda. Tapi album pop yang menjual seperti Koes Plus atau Pandjaitan Bersaudara (Panbers) tetap menjadi garapan utama.
Studio-Dimita-Mesra1
Dalam menggarap rekaman di Mesra dan Melody, Dick Tamimi terkenal dengan sikap perfeksionis yang ia terapkan kepada tata suara. Benny Pandjaitan, frontman band multihits Pandjaitan Bersaudara, pernah berkata dalam suatu forum, “Dia (Dick Tamimi) adalah seorang penerbang namun ahli dalam sound recording. Bayangkan saja waktu itu, echo-nya sebesar lemari, tapi dia bisa cari”.  “Cari sound saja itu setengah mati rasanya. Dick Tamimi cari sampai ketemu dan dia catat semua. Dick  Tamimi memang luar biasa. Kalau untuk urusan kuping, Pak Eugene (produser Remaco) masih kalah jauh”.
Allan Tamimi, putra Dick, mengenang ayahnya sebagai penyuka musik dan elektronik. “ Hampir semua peralatan elektroniknya pernah dimodifikasi oleh beliau, termasuk peralatan studio rekamannya”.
Hobi radio amatir Dick juga makin menggila. Dick yang sejak tahun 1950 sudah tergabung dalam PARI (Persatoean Amatir Repoeblik Indonesia) dan memiliki saluran (YBØAC) dikenal sebagai pegiat radio yang memiliki alat-alat paling canggih, pada masa itu, di Indonesia. Salah seorang senior dunia radio amatir, H.K. Ardiwinata menulis dalam tulisannya yang berjudul “Pengalaman merakit Transceiver SSB”, bahwa perangkat  Homebrew SSB transmitter seperti yang dipakai Dick Tamimi pada dekade 1950-an hingga 1960-an merupakan barang berkualitas yang tidak bisa didapat di dalam negeri. Namun, Ardiwinata juga mengenang Dick Tamimi sebagai seorang yang tidak pelit membagi ilmu, terutama dalam hal kesabaran dan ketelitian, tentang radio amatir kepada junior-juniornya. Dick juga dikenang sebagai orang yang mampu membuat sendiri suku cadang untuk menambah kemampuan perangkat radionya.
IAR-1967-1968
Pada 9 Juli 1968, Organisasi Amatir Radio Indonesia, disingkat ORARI dibentuk atas dasar Peraturan Pemerintah RI No. 21 tahun 1967. Dick Tamimi menjadi salah satu anggota awal yang bergabung dengan cabang Jakarta organisasi tersebut.
Kondisi bisnis musik yang memburuk membuat Dick Tamimi menutup Dimita pada tahun 1976. Ia berkonsentrasi menjadi instruktur di beberapa sekolah penerbangan dan juga kembali intim dengan hobi radio amatir, termasuk dengan Organisasi Radio Amatir Republik Indonesia yang turut dibidaninya tahun 1968.  Tahun 1976 ia sempat mengikuti misi bantuan Operasi Seroja ke Timor Timur dan tertahan disana selama  sebulan untuk menerbangkan penerbangan VIP ke pelosok Timor Timur yang hanya bisa dijangkau oleh pesawat kecil sejenis Cessna atau Piper.
Untuk mempertahankan lisensi penerbang dan type rating beliau mengajar dibeberapa sekolah penerbangan seperti  Aero Club, Deraya, Jakarta Flying Club, dan Penerbad. Ia juga turut membidani Federasi Aero Sport Indonesia (FASI).
Udara memang telah menjadi sahabat bagi aktualisasi diri bagi seorang Mohammad Sidik Tamimi. Namun pada akhirnya perjalanan udara pula yang merenggut nyawanya. Dalam sebuah perjalanan cross country ke Singapura , pada tanggal 16 Februari 1978, pesawat yang dikemudikannya jatuh di Padamaran, Ogan Komering Ulu, Palembang dan jenazahnya baru diketemukan tanggal 21 Februari. Ia meninggal dalam usia 56 tahun dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata sehari setelah jenazahnya diketemukan. Ia meninggalkan seorang istri, Ny.Roekmini Akmam, dan lima orang anak.
Mama-Fari-Mira-Papa-th-50an
Nama Dick Tamimi memang tidaklah menjadi pengetahuan umum kini, tapi kiprah hidupnya terlalu menarik untuk dilupakan. Kegigihan, ketelitian, dan kreativitas yang diterapkannya dalam setiap bidang yang ia tekuni bisa merupakan sesuatu yang inspiratif. Di udara dia jaya!.
Daftar Riwayat Hidup Dick Tamimi
Daftar Riwayat Hidup Dick Tamimi 1
Referensi
  1. Wawancara dengan Allan Tamimi.
  2. Dokumen Riwajat Hidup Dick Tamimi. Dokumentasi keluarga.
  3. Lisensi Stasiun Radio Amatir atas nama M.S. Tamimi. Dokumentasi keluarga.
  4. Surat Perintah AURI no.130/Ksu/Per/47 tanggal 6 Desember 1947. Berisi perintah bahwa Sidik Tamimi diperbantukan pada Opsir Udara II Iswahjudi
  5. Surat Kuasa no.138/C-1/K/47 tanggal 9 Desember 1947 (Angkatan Udara). Berisi perintah dari Komodor Muda Udara H.Perdanakoesoema kepada Sidik Tamimi untuk menggantikan posisi Iswahjudi yang sedang tugas luar.
  6. Benny Pandjaitan dalam diskusi It’s The Vinyl Countdown, Galeri Ruang Rupa Jakarta, Agustus 2011.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar